Postingan

Gamang

  Jangan engkau jadikan aku seperti Kiska, sang paus malang yang harus terkurung di dalam kolam megah nya sendirian. Karena Istana yang kau tawarkan dengan begitu megah itu, bak penjara paling menyedihkan, saat tak kau limpahkan perhatian mu disana. Jangan kau jadikan aku seperti Kiska, sang paus cantik yang harus menanggung kesepian sepanjang hidupnya. Karena di dalam hubungan sempurna yang kau buat, aku seperti merasa sendiri, karena entah mengapa rasanya masih begitu sibuk dirimu kesana kemari. Malam yang seharus nya aku dapati peluk mu, terasa begitu dingin saat hangat mu hambar menyentuh kulit ku. Tangan mu memang memegang ku erat, tetapi aku tahu kamu telah meninggalkan ku sendirian. Ku dapati binar ku meredup saat melihat tatap mu yang penuh dengan semangat, tapi tidak mengikut sertakan aku. Saat bibir mu mengecup ku dengan penuh kelembutan, hati ku merengut perih saat ku rasakan ada bayang lain yang menyelinap di lintasan syaraf otak mu. Kamu mengubah tanpa berubah, dan...

Belati

Luka ku belum sembuh. Bahkan darahnya saja masih belum berhenti untuk keluar. Namun pasti kamu tidak mengetahui itu atau bahkan tidak pernah peduli dengan hal tersebut. Aku sudah mengalah, sudah mundur dan tidak berniat untuk membalas apapun yang sudah terjadi. Tetapi, entah mengapa itu tidak membuat kamu cukup dan bersenang diri. Padahal sudah aku berikan kemenangan itu kepada mu. Membiarkan mu berpikir bahwa kamu lah terhebat dan juaranya. Lalu tiba tiba kamu tancapkan lagi belati yang sudah aku cabut kemarin. Di atas luka yang hanya aku tutupi dengan sehelai kain hitam. Tidak menghentikan aliran darahnya memang. Tapi setidaknya hitam tak memberi tahu kepada orang orang bahwa luka itu masih basah. Dan dirimu ternyata tidak puas juga jika hanya menancapkannya. Lantas kamu tarik putih besi itu ke sembarang arah. Membuat luka nya semakin melebar. Lagi lagi aku lengah untuk melindungi aku.   Aku kira memang kamu tidak akan pernah berhenti sampai kapan pun. Meski nyawa ku sudah ti...

SURGA TERSEMBUNYI ITU BERNAMA PEKAJANG

Gambar
                  Sumber.   https://instagram.com/neozhury?igshid=YmMyMTA2M2Y =   Indonesia terkenal dengan wisata alam nya yang begitu indah. Salah satunya adalah keindahan alam bawah lautnya yang masih terjaga dan tidak akan ada habisnya untuk di ekplorasi. Wisata laut yang masih jarang orang ketahui itu diantaranya berada di Kepulauan Riau, kecamatan lingga yang bernama pulau pekajang. Sebuah pualu dengan luas keseluruhan kurang lebih 1756 km².   Untuk akses ke desa Pekajang sendiri hanya bisa di tempuh dengan menggunakan kapal. Meskipun begitu, selama perjalanan, kita aan di suguhkan dengan keindahan laut yang memanjakan mata, bahkan jika kita beruntung, tak jarang saat perjalanan menuju pulau tersebut, kita bisa bertemu dengan rombongan lumba lumba yang berenang. Jika kita berangkat dari desa Teluk Limau, Bangka Barat, itu   bisa menempuh waktu kurang lebih 3-4 jam. Sedangkan jika kita berangkat dari...

Kepingan Yang Lebur

Gambar
 Suara ombak malam itu sedikit lebih kencang dari biasanya. Malam pun terasa lebih gelap dari seharusnya. Padahal bulan dan para bintang berhamburan menghias galaksi malam itu. Seorang perempuan berdiri di tepi pantai itu dengan tenang. Matanya membelah kelam lautan sampai di ujung garis khatulistiwa. Menikmati sapuan angin yang mencoba mengusirnya perlahan dari sana. Tapi raga itu sama sekali tak bergeming. Semua orang tau bahwa hanya sebuah tubuh yang berdiri disana. Tak ada yang salah dengan dunia. Dia masih berputar sesuai poros nya. Masih sama berisiknya seperti yang sudah sudah. Tapi, ada sebuah gelas kaca yang sudah hancur menjadi serpihan, ada siang yang terasa lebih panas, ada nada yang lebih tinggi, ada pembicaraan yang telah membunuh sebongkah hati yang memang sudah cacat. Ada darah yang berhamburan di sepanjang lantai, dan ada manusia yang tetap bernafas tapi sudah menjadi mayat. Mata itu sudah tidak mengeluarkan hujan lagi. Ada nada tawa yang sudah menggema di se...

Pesawat Kertas itu Akan Terbang tinggi

Tak apa, aku benar benar akan melepaskan mu dengan hati yang sangat lapang. Dengan harapan yang begitu tipis. Berjalan lah dengan tenang. Ringankan langkah mu, cukup gelisah ku saja yang semakin memberat. Aku paham ini akan sulit awalnya untuk ku lalui. Tapi akan ku paksa sekeras yang ku bisa lakukan. Agar terbiasa untuk tak lagi ada kamu. Tak lagi tentang kamu. Meski butuh waktu untuk bisa menerima dan mempercayai kalimat "jika ia milik mu, maka ia akan kembali" Namun akan terus ku coba. Dengan segala ketakutan ku, kesedihan ku, ketidak relaan ku. aku akan berdiam diri tak mengantarkan mu ke pintu keluar. Maafkan aku, itu berat. Dan aku terlalu khawatir tak bisa menahan diri untuk tidak mendekap mu lebih erat. Jujur saja s eandainya bisa, aku sungguh ingin memelukmu. Menyimpan hangat mu sebanyak yang aku bisa. Agar bisa ku ingat ingat kembali saat rindu menerjang ku diwaktu waktu tertentu. Percayalah, aku sudah menyiapkan diri meski tidak pernah benar benar siap....

PEREMPUAN DI LORONG WAKTU; Pohon kehidupan

  "Killa, kamu mau mempercayai sesuatu? " Dahi Killa mengerut kala mendengar pertanyaan Genta barusan "Maksud mu? " Ucap Killa kebingungan. Genta tersenyum sembari menarik tangan kekasihnya itu agar mengikutinya. "Genta, kita mau kemana sih? " "Ikut saja Killa. Kamu akan tahu itu nanti" "Kamu mau ngasih aku suprise ya? " Genta tertawa mendengar killa, langkah mereka berhenti di sebuah pohon kecil yang nampak nya baru saja ditanam itu. "Ada sebuah keyakinan tentang pohon kehidupan" Suara Genta memecah kebingungan Killa "Lalu kamu mau aku mempercayai keyakinan itu? " Ucap Killa jenaka "Yap, aku pengen kita berdua mempercayai nya" "Genta ku sayang, itu hanya mitos, musyrik ah" "Killa ku sayang, aku gak nyuruh kamu untuk menyembah nya" "Ya tapikan itu sama aja cintaa" Killa menatap Genta dengan jahil. Sedang Genta menatap perempuan nya itu dengan gemas "Jadi ...

Kesatria ber Ego Tinggi

 Raini berjalan menyusuri trotoar dengan langkah cepat. Malam itu jalanan sepi, hanya satu dua manusia saja yang lewat. Wajar, waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari.  Dengan perlahan perempuan yang mengenakan baju kaos dan celana pendek hitam itu mengubah langkah nya menjadi berlari. Tatapan nya lurus kedepan, tajam tak beralih. Raut wajah nya datar tanpa ekspresi.  Lalu setelah sekian langkah dilalui nya, nafas nya mulai memendek. Tubuh nya mulai memberi sinyal untuk beristirahat. Tapi sedikit pun langkah sang gadis tak mengurang. Masih tetap semangat memaksa kakinya untuk memacu di jalanan.  Hingga akhirnya lutut nya mencium jalanan dengan sangat kasar. Sandal yang digunakannya putus dengan tidak memberi aba aba. Gadis itu masih diam. Dengan pelan merubah posisi nya menjadi terduduk.  Mata nya menatap datar luka yang hadir di lutut nya, lalu ke arah sendal nya yang sudah berakhir itu.  Nafas nya masih memburu. Hingga perlahan tatapan nya beralih ke la...

Gema untuk Tiara

  Kanvas angkasa di penuhi oleh gemerlap cantik bintang malam itu. Saat Gema sampai di depan pagar rumah Tiara, pujaan hati nya. "Jam 7 pas, sesuai janji kita. Ga telat sedetik pun" Ucap laki laki yang mengenakan jaket denim hitam itu saat wajah tiara keluar dari balik pagar rumah. Senyum Tiara merekah mendengar lelucon Gema. "Aku mau pamit sama calon mertua ku dulu. Ada mereka? " Tanya gema sembari mengintip dari balik pagar "Nanti aja pas pulang ya. Soalnya ada eyang di dalem. Kamu tau kan eyang gimana kalo udah ketemu kamu, bisa bisa kita ga jadi jalan karena kamu ga bisa lepas dari beliau" Gema tertawa tipis "Baiklah kalau begitu, sini pake helm dulu tuan putri" Tiara mendekat di hadapan gema. Laki laki itu membantu sang pacar mengenakan helm. Sebuah kebiasaan yang terkadang membuat tiara malu, karena gema selalu melakukan nya tak peduli bahkan jika sekitar mereka sedang banyak orang. "Aku kan bisa make helm sendiri Gema" ...

Perayaan Luka

  "Sendirian aja mbak? " Sapa pak satpam dengan ramah sore itu. Aku menoleh ke arah nya, tersenyum dan menjawab singkat "Hehe iya pak" "Tumben, biasanya selalu sama mas nya kalo kesini" Senyumku semakin lebar, dengan juga nada yang ku rasa sama ramah nya aku menjawab tanya itu "Iya pak, dia lagi kerja. Jadi aku sendirian kesini nya. Lagi pengen hehe" Pak satpam itu mengangguk singkat. "Ya sudah, selamat menikmati hari ya mbak" Aku mengangguk singkat, mengikuti kepergian laki laki paruh baya itu dengan senyum. Lalu mata ku mengitari seluruh isi taman, mencoba melihat sekelilingku sebelum kembali ke layar laptop di hadapan ku. Taman sore itu sepi, memang tak pernah ramai. Aku teringat itu adalah salah satu alasan  kita begitu menyukai tempat ini. Di taman indah ini kita bisa duduk berjam jam menghabiskan waktu melakukan hal hal kecil tapi manis, membicarakan apa saja dan tertawa bersama. Kita hanya duduk tapi entah mengapa itu...

Daun Terakhir di Ranting Kecil

  "Dua puluh tiga hari lagi bukan waktu yang sebentar nada" Ucap seorang perempuan ber netra kecoklatan itu "Gue tau Cha" Balas nada lembut "Lalu kapan lu akan ngasih tau dia? " "Sudah" Balasan Nada tersebut membuat Icha memalingkan wajah nya ke arah Nada. Mencoba menyerobot ke dalam pernyataan Nada barusan, mencari celah kebohongan "Lalu apa yang dia katakan? " Nada tak langsung menjawab. Juga tak membalas tatapan Icha.  Perempuan itu jelas kesulitan memberikan jawaban. Seolah sedang menolak mengingat kenangan yang masih segar itu. "Nada, tell me. Apa yang dia katakan? " Lagi, Icha menuntut jawaban dari sahabatnya itu "Dia menolak" Singkat jawaban Nada, namun mampu menghentikan nafas Icha sejenak. "Dia menolak untuk datang, katanya akan sangat berbahaya jika dia datang. Lu tau kan anak-anak nya ga tau tentang gue. Lagi pula istri nya gak ngasih izin, dan di hari yang sama dia udah berjanji ngajak a...

Dara dan Mereka

  Jam telah menunjukkan 2 dini hari saat seorang bartender menyuguhkan gelas minuman beralkohol yang kesekian ke hadapan  seorang wanita muda. Wanita berbaju kaos putih itu menerima gelasnya dengan senyum ramah. Dia belum mabuk, mungkin sudah, tapi tidak terlalu parah. Karena Dara, nama wanita itu. Masih bisa menyadari teman di samping nya yang menjadi pawang nya malam ini. Resa sudah duduk satu jam lebih di samping Dara, semenjak saat dia mendapat telepon dari sahabat dekat nya itu. Mengawasi Dara, sembari menyesap wine nya yang tak kunjung habis. "Gue tau lu kuat minum, tapi malem ini lu udah terlalu banyak minum. Ini gelas terakhir oke. Habis ini kita cabut" Dara menghela nafas nya perlahan mendengar penuturan Resa. "Gue capek" Suara itu lirih keluar dari mulut Dara. Mata nya tajam melihat ke depan. Ke arah kerumunan manusia yang masih asik menggerakkan tubuh nya mengikuti alunan musik. "Kalau gitu besok gue akan minta Jihan untuk atur jadwal kerjaan. ...

PEREMPUAN DI LORONG WAKTU; kabar yang tidak di harapkan

 Sore itu, langit sudah berwarna jingga disetiap sudutnya. kala killa menyambut Ibrahim diserambi rumahnya. Tawanya cerah, berbanding terbalik dengan raut wajah kaku yang di tampilkan Ibrahim. "eh mas Ibrahim, tumben mas kesini. Ayo silahkan masuk mas" Ajak killa kepada Ibrahim sembari membuka lebar pagar rumahnya, menuntun  Ibrahim untuk masuk keruang tamu rumahnya “disini saja Killa” suara bass itu tercekat berat saat mereka tepat didepan pintu rumah Killa menatap heran, meskipun pada akhirnya dia menuntun Ibrahim untuk duduk di kursi teras “mas mau minum apa? Biar saya ambilkan” tawar killa halus “tidak perlu repot-repot Killa, saya hanya ingin berbicara dengan mu” “tidak repot kok mas, tunggu sebentar ya” “saya mohon killa, tolong kamu cukup duduk saja” Cegah Ibrahim kala killa akan tetap berangkat dari duduknya. Lagi-lagi killa menatap heran kepada pria yang merupakan teman baik suaminya itu. Killa duduk kembali ke kursinya. Hatinya gelisah merasakan su...