Perayaan Luka
"Sendirian aja mbak? "
Sapa pak satpam dengan ramah sore itu.
Aku menoleh ke arah nya, tersenyum dan menjawab singkat
"Hehe iya pak"
"Tumben, biasanya selalu sama mas nya kalo kesini"
Senyumku semakin lebar, dengan juga nada yang ku rasa sama ramah nya aku menjawab tanya itu
"Iya pak, dia lagi kerja. Jadi aku sendirian kesini nya. Lagi pengen hehe"
Pak satpam itu mengangguk singkat.
"Ya sudah, selamat menikmati hari ya mbak"
Aku mengangguk singkat, mengikuti kepergian laki laki paruh baya itu dengan senyum.
Lalu mata ku mengitari seluruh isi taman, mencoba melihat sekelilingku sebelum kembali ke layar laptop di hadapan ku.
Taman sore itu sepi, memang tak pernah ramai. Aku teringat itu adalah salah satu alasan kita begitu menyukai tempat ini. Di taman indah ini kita bisa duduk berjam jam menghabiskan waktu melakukan hal hal kecil tapi manis, membicarakan apa saja dan tertawa bersama. Kita hanya duduk tapi entah mengapa itu terasa bermakna. Untuk ku.
Menarik nafas panjang dan menghembuskan nya perlahan. Mengatur kembali pikiran ku yang nyaris berkelana ke kotak kenangan. Ku bawa mata ku kembali berfokus ke benda elektronik berwarna putih itu. Mulai melanjutkan pekerjaan ku dengan fokus. Samar ku dengar suara tawa sepasang yang begitu bahagia. Dengan obrolan sederhana yang terasa tak asing bagi ku. Mata ku terpejam mencoba menenangkan diri. Yang sial nya gagal ku lakukan.
Lalu pelan pelan, air mata itu turun tanpa mengantongi izin. Senyum ku merekah, lebih ke menertawakan diri sendiri sebenarnya. Menyadari alasan ku datang kemari tanpa diri mu. Menyadari alasan ku ke pak toni, nama satpam itu, adalah bohong semata. Mengakui bahkan sejak gerbang depan taman itu ku lihat, sesak sudah menyelimuti hati ku dengan sangat terburu buru.
Aku terisak pelan, ku akui sebenarnya aku tidak baik baik saja. Alasan ku datang kesini adalah karena aku begitu merindukan mu. Sedang kita tak lagi bisa memiliki alasan untuk saling menuntaskan rindu ini. Hati ku begitu sakit menyadari bahwa kini aku tak lagi bisa bersama mu. Tak ada lagi kita, hanya aku dan kamu. Aku yang tak bisa tahu lagi apapun tentang mu. Dan sejujurnya itu begitu menghancurkan ku.
Aku masih tidak bisa menerima akhir dari cerita ini. Aku masih enggan mengakui kenyataan nya. Aku masih begitu mencintai mu dan segala tentang kita.
Aku menatap ke samping, tempat mu yang kini kosong. Setelah semua yang terjadi, aku masih tetap tak bisa membenci mu. Lalu perlahan tangis ku semakin kencang tanpa ku sadari. Memenuhi seluruh isi taman yang semula hening. Dada ku semakin sesak di buat nya. Tak lagi bisa mengendalikan diri untuk tidak merusak sore pengunjung yang lainnya. Sore dengan jingga yang sangat indah. Lagi lagi itu kesukaan kita dahulu.
Miris, dulu aku sering menangis disini, dengan mu yang mengelus punggung ku atau bahkan memeluk ku. Dan sekarang aku disini. Mencoba tertawa meski hanya berakhir dengan tangisan yang sama. Yang turun selama sebulan belakangan ini.
Aku disini, dan tanpa mu.
.
.
.
.
Laki laki paruh baya itu melihat dari jauh ke arah perempuan muda yang sedang hancur itu. Mengawasi jika seandainya perempuan kecil itu butuh bantuan. Hati nya terasa nyeri melihat perempuan itu menangis sembari memukul dada nya sendiri; Kira nya mungkin sedang mencoba mengurangi sesak yang begitu menyakitkan. Laki laki itu mencoba menjaga sekitar taman agar tetap kosong. Membiarkan perempuan yang biasanya sedang tertawa bersama pria nya, kini menangis sendirian. Yang mungkin sedang merayakan luka nya; dengan sangat meriah.
Komentar
Posting Komentar