Kesatria ber Ego Tinggi

 Raini berjalan menyusuri trotoar dengan langkah cepat. Malam itu jalanan sepi, hanya satu dua manusia saja yang lewat. Wajar, waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. 


Dengan perlahan perempuan yang mengenakan baju kaos dan celana pendek hitam itu mengubah langkah nya menjadi berlari. Tatapan nya lurus kedepan, tajam tak beralih. Raut wajah nya datar tanpa ekspresi. 


Lalu setelah sekian langkah dilalui nya, nafas nya mulai memendek. Tubuh nya mulai memberi sinyal untuk beristirahat. Tapi sedikit pun langkah sang gadis tak mengurang. Masih tetap semangat memaksa kakinya untuk memacu di jalanan. 


Hingga akhirnya lutut nya mencium jalanan dengan sangat kasar. Sandal yang digunakannya putus dengan tidak memberi aba aba. Gadis itu masih diam. Dengan pelan merubah posisi nya menjadi terduduk. 


Mata nya menatap datar luka yang hadir di lutut nya, lalu ke arah sendal nya yang sudah berakhir itu. 


Nafas nya masih memburu. Hingga perlahan tatapan nya beralih ke langit malam yang kosong. 


Gadis itu menenangkan nafas nya dengan pelan. Tapi sesak yang ada di dadanya tak juga kunjung berkurang. Sesak yang membawanya sampai ke pinggiran jalan ini. Sesak yang memaksa nya untuk berlari agar tergantikan dengan sesak yang lainnya. 


Lama menikmati posisi nya. Sebuah langkah kaki lain sampai di depan sang gadis dengan tenang. Mata Raini melihat ke arah sang tuan yang menjulang di hadapannya. Lalu kembali melihat ke arah langit hitam. Mengabaikan manusia lain yang baru saja hadir itu. 


"Kamu yang selalu bilang untuk tidak menolak kesedihan. Dan kalau kalau kamu sedang tidak menyadarinya, yang kamu lakuin sekarang adalah berusaha melakukan penolakan"


Suara itu lembut memecahkan susana hening itu. Mata sang pemilik suara tak lepas dari Raini. Alif, laki laki itu memperhatikan dengan seksama mata sang gadis yang sedang asik menembus langit malam. 


Raini tak menjawab. Tapi nafas yang awal nya sudah tenang itu mulai sedikit memburu. Terusik. 


"Nangis itu bukan hal yang memalukan neng, kalo mau nangis mah nangis aja. Kalo mau marah mah marah aja. Gak ada yang ngelarangan kamu untuk bersedih"


Gadis bermata sipit itu menghembuskan nafas nya dengan berat. Masih mencoba menyelami langit hitam itu. Masih mencoba mempertahankan pagar besi nya. 


"Berhenti memberi makan ego kamu Raini"


Alif berbicara dengan nada sedikit penekanan. Gemas dengan perempuan di hadapan nya itu


"Aku"


Ada jeda yang di berikan Raini setelah kata pendek itu. Dan dengan sabar Alif menunggu


"Memang nya aku kenapa?"


Suara raini lembut, juga lirih. Nyaris hilang di makan angin malam. Alif berjongkok mensejajarkan wajah nya dengan perempuan mungil itu. Menatap mata sang gadis yang kini juga sedang menatap nya. 


"Kamu sedang terluka"


Raini melirik ke arah luka lutut nya. Menatap lama ke arah luka yang sedang berdarah segar itu. Mata yang semula tajam itu perlahan berubah sendu


"Bukan hanya lutut mu raini, hati mu juga kan? "


Kalimat sambungan Alif itu membuat Raini kembali menatap netra gelap pria itu. Lagi lagi hembusan nafas pelan ia keluarkan. 

Tangan nya meraba ke arah dada nya pelan. Tepat di tempat yang sejak tadi terasa berat dan menyesakkan tak berkesudahan. 


"Kalau rasanya sedemikian sakit, kamu boleh menangis kok"


Alif menawarkan sesuatu yang dia paham, perempuan ini sedang bimbang untuk mengambilnya sejak tadi


"Aku, boleh menangis? "


"Iya, boleh raini. Kamu bahkan boleh menangis dengan sangat kencang. Biarkan sesak itu keluar dengan bebas"


Raini terus menatap netra milik Alif. Mencoba meyelami hitam itu lagi. 


"Rasanya memang sakit lif, sakit"


Lirih raini berucap, seiring dengan bulir air matanya yang jatuh. Air mata yang sejak tadi ia tahan dan larang untuk jatuh. Kini berhasil keluar dari kurungan nya. 


"Sakit"


Lagi, suara lembut itu mengucapkan kata yang diharapkan mampu mewakili segalanya. Alif diam memperhatikan. Membiarkan sang gadis berjuang menerima sakit yang ia rasakan. 


Lalu tiba tiba Raini tersenyum. Menggeleng pelan kepalanya.


"Tapi enggak, aku baik baik saja kok"


Senyum itu semakin melebar. Tapi tangan nya masih setia mencengkram bagian sesak di dada nya itu. Sekarang, giliran Alif yang menghembuskan nafas perlahan. Di tarik nya pelan gadis mungil itu ke pelukan nya. Tak ada pemberontakan. 


Hening menyapa di sekeliling mereka. Tak ada yang berbicara, hanya tangan besar alif yang dengan pelan menepuk dan mengelus punggung mungil raini. Lengan nya merapat, mencoba menyembunyikan tubuh raini di pelukan nya. 


"Kamu tidak sedang baik baik saja Raini. Dan kamu boleh menangis sekarang, ku pastikan tak akan ada yang bisa melihat mu. Kamu bisa bersembunyi sembari menangis didalam dekapan ku. Anak baik, biar ku beri tahu, kamu tidak kalah dalam tangis ini sayang"


Angin malam berhembus kembali. Dan tangis Raini yang dengan pelan tapi pasti membesar di dalam dekapan laki laki itu. Tangan nya mencengkram erat hoodie yang dikenakan oleh Alif. Seiring dengan sesak dan sakit yang berduyun duyun mendobrak hati nya. Mencabik seluruh isi tubuh Raini tanpa ampun. 


Malam semakin gelap, hanya sang bulan yang semakin menerangkan cahaya nya. Sedang para bintang yang awal nya mulai muncul, kembali undur diri dari pertunjukan langit malam itu. Seolah menghargai kesedihan yang sedang di akui oleh seorang kesatria ber ego tinggi itu. Kemenangan yang sedang di sambut dengan meriah itu. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebab aku akan baik baik saja. Nanti.

AGA & RAINA : PERTEMUAN

SURGA TERSEMBUNYI ITU BERNAMA PEKAJANG