Gema untuk Tiara
Kanvas angkasa di penuhi oleh gemerlap cantik bintang malam itu. Saat Gema sampai di depan pagar rumah Tiara, pujaan hati nya.
"Jam 7 pas, sesuai janji kita. Ga telat sedetik pun"
Ucap laki laki yang mengenakan jaket denim hitam itu saat wajah tiara keluar dari balik pagar rumah. Senyum Tiara merekah mendengar lelucon Gema.
"Aku mau pamit sama calon mertua ku dulu. Ada mereka? "
Tanya gema sembari mengintip dari balik pagar
"Nanti aja pas pulang ya. Soalnya ada eyang di dalem. Kamu tau kan eyang gimana kalo udah ketemu kamu, bisa bisa kita ga jadi jalan karena kamu ga bisa lepas dari beliau"
Gema tertawa tipis
"Baiklah kalau begitu, sini pake helm dulu tuan putri"
Tiara mendekat di hadapan gema. Laki laki itu membantu sang pacar mengenakan helm. Sebuah kebiasaan yang terkadang membuat tiara malu, karena gema selalu melakukan nya tak peduli bahkan jika sekitar mereka sedang banyak orang.
"Aku kan bisa make helm sendiri Gema"
"Kalau kamu pake sendiri, trus gunanya aku apa? Kalo bisa kamu bernafas pun aku yang bakal ngelakuin nya. Biar jantung mu ga cape."
Tiara memukul lengan gema pelan, gemas pada sang kekasih
"Apasih Gema, lebay deh"
"Ya kan aku hanya melakukan tugas seorang pacar dengan baik, sayang"
Lalu mereka tertawa bersama, merasa sedikit geli pada pembicaran mereka barusan
Selesai kegiatan mengenakan helm itu, di bantu oleh gema, tiara naik ke atas motor. Yang tentu saja pijakan kaki nya sudah gema turunkan terlebih dahulu.
"Terima kasih"
Ucap tiara lembut. Yang di balas tarikan tangan oleh gema. Menuntun tangan perempuan pemalu itu untuk memeluk tubuh nya.
"Kita berangkat tuan putri"
.
.
Motor bernuansa hitam itu melaju pelan. Menembus jalanan malam yang ramai. Wajar, karena malam itu adalah malam minggu. Jadwal para manusia menyambut hari libur dengan kekasih.
"Gema, kaca spion kamu sebelah kiri di lurusin atuh"
"Gpp, biar kamu bisa ngaca terus"
Tiara memiringkan wajah nya mencoba melihat gema meskipun hanya nampak pipi pria itu
"Biar aku bisa ngaca atau biar kamu bisa ngeliat wajah aku terus? "
Goda tiara halus, Gema tertawa renyah.
"Ah ketahuan deh, siapa suruh punya wajah yang candu buat diliatin terus"
Tiara menyembunyikan senyumnya di balik punggung gema. Masih sering tersipu dengan gombalan kecil gema.
Tiara, perempuan keras kepala yang telah menolak hati banyak laki laki itu akhir nya telah luluh oleh seorang laki laki berperawakan sederhana yang tidak sengaja di kenal nya.
Luluh oleh perlakuan kecil nan sederhana yang dilakukan oleh gema.
Membantu nya menghabiskan makanan, mendengarkan ceritanya dengan baik, menggenggam tangan nya saat berjalan, mengusap kepala nya saat momen momen tertentu, atau sesederhana memeluknya saat dia merasa sedang tidak baik baik saja.
Tiara ingat saat pertama kali mereka bertemu, saat dimana tiba-tiba Gema menarik kerah belakang baju Tiara agar perempuan itu bergerak mundur, saat itu terjadi keributan kecil di pentas seni yang sedang mereka hadiri. Tiara yang mempunya respon yang sangat lambat apalagi ketika dia tak merasa takut, terus berdiri diam di tempat, melihat kearah perkelahian dengan penasaran.
Saat itu Tiara mendapati wajah Gema yang menatapnya aneh. Namun setelah nya, uluran tangan Gema menariknya dari kebisingan itu. Yang tanpa Tiara sadari telah Ia sambut dengan baik sejak saat itu.
Keajaiban nya adalah Gema tau cara menyentuh hati tiara, gema yang mungkin tanpa sengaja telah mendapatkan kunci pintu baja itu.
"Aku minta maaf ya, karena kita harus kehujanan gini. Coba kalo aku punya mobil, pasti kamu ga akan susah begini. Tapi kalo kita naik mobil, kamu ga bisa meluk aku dari belakang dong."
Ucap Gema saat kencan pertama mereka setelah resmi berpacaran. Yang saat itu terlihat menggemaskan bagi Tiara. Gema memang sering membuat lelucon tentang rasa rendah diri nya yang ditutupi gombalan gombalan ringan itu. Dan Tiara menyadari itu dengan baik. Tapi begitupun mereka selalu meyakinkan satu sama lain bahwa yang terpenting adalah asal bersama, apapun akan terasa bermakna.
Ya, Tiara menemukan nya. Rumah sederhana namun hangat itu. Rumah yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk nya, rumah dimana dia merasa nyaman sekaligus aman. Rumah nya, Gema.
Komentar
Posting Komentar