PEREMPUAN DI LORONG WAKTU; kabar yang tidak di harapkan


 Sore itu, langit sudah berwarna jingga disetiap sudutnya. kala killa menyambut Ibrahim diserambi rumahnya. Tawanya cerah, berbanding terbalik dengan raut wajah kaku yang di tampilkan Ibrahim.

"eh mas Ibrahim, tumben mas kesini. Ayo silahkan masuk mas"

Ajak killa kepada Ibrahim sembari membuka lebar pagar rumahnya, menuntun  Ibrahim untuk masuk keruang tamu rumahnya

“disini saja Killa” suara bass itu tercekat berat saat mereka tepat didepan pintu rumah

Killa menatap heran, meskipun pada akhirnya dia menuntun Ibrahim untuk duduk di kursi teras

“mas mau minum apa? Biar saya ambilkan” tawar killa halus

“tidak perlu repot-repot Killa, saya hanya ingin berbicara dengan mu”

“tidak repot kok mas, tunggu sebentar ya”

“saya mohon killa, tolong kamu cukup duduk saja”

Cegah Ibrahim kala killa akan tetap berangkat dari duduknya. Lagi-lagi killa menatap heran kepada pria yang merupakan teman baik suaminya itu. Killa duduk kembali ke kursinya. Hatinya gelisah merasakan suasana yang tak lagi nyaman. Sedang Ibrahim menatap wajah killa sesaat, kemudian beralih menatap ubin yang dia injak.

“sepertinya serius sekali mas, ada apa ya?” Tanya killa lembut

“maafkan saya killa, saya sungguh meminta maaf”

Killa mulai mengerutkan keningnya, pertanda dia sangat kebingungan

“seingat saya mas Ibrahim tidak punya salah terhadap saya. Lantas itu tadi maaf untuk apa ya?”

“killa, saya sungguh tidak sanggup untuk mengatakan ini killa”

Suara bass Ibrahim semakin berat. Kepalanya semakin tertunduk ke bawah. Seolah jika melihat wanita di depannya itu, akan menjadi kehancurannya.

Killa tertawa pelan merespon keadaan, matanya semakin tajam seolah mencari netra milik pria dewasa itu untuk membuka semua yang belum terkatakan

Ibrahim menghela nafas dengan berat. Tangan nya pelan meletakkan sebuah amplop putih keatas meja, yang di ikuti lirikan killa.

“apa ini mas?”

“surat pernyataan”

Raut wajah killa semakin berubah kebingungan. Sedang Ibrahim memberanikan diri melihat kepada wanita mungil itu.

“surat pernyataan apa ya?”

“killa, ada tamu siapa nak?”

Bukan Ibrahim yang menjawab.tapi Tanya lain yang muncul dari ibu nya yang baru datang, diikuti ibu mertuanya juga. Sore ini memang mereka sedang mengadakan acara keluarga di pekarangan belakang.

“ada mas ibrahim buk, mengantarkan surat” sahut killa lembut

“surat? Kami kira genta yang pulang, sebab kamu lama sekali” sahut ibunya yang diiringi tawa oleh ibu mertuanya yang berada di samping ibunya

“halo nak Ibrahim, apa kabar nak?” Tanya ibu mertuanya

“Alhamdulillah saya baik tante” jawab  Ibrahim singkat

“jadi tadi ini surat pernyataan apa ya mas?” Tanya killa kembali

Gestur tubuh Ibrahim semakin kesusahan.

“dengarkan ini baik baik ya killa, saya ingin kamu, dan kita semua kuat”

“hah maksudnya mas?”

Tiga pasang mata menatap pria itu lekat, menanti ujung teka teki ini.

“itu surat pernyataan dari kesatuan yang mengabarkan bahwa anggota tentara  yang bertugas di unit kesatuan elang, yaitu Genta era sayuda”

Jeda yang diambil Ibrahim membuat killa nyaris kehabisan kesabarannya. Namun dia sendiri menyadari bahwa apa yang akan dikatakan oleh Ibrahim bukan lah hal yang baik.

“ada apa dengan genta nak?” ibu mertua killa lah yang bertanya. Mendesak Ibrahim untuk melanjutkan kalimatnya

“genta era sayuda dinyatakan gugur dalam bertugas”

Suara Ibrahim tercekat kala menyelesaikan kalimatnya. Gelas kaca yang berada didalam genggaman ibu killa meluncur ke ubin dingin itu. Hening, masing masing sedang mencerna apa yang barusan masuk ke gendang telinga mereka.

“maaf mas Ibrahim, saya takut ada yang salah dengan pendengaran saya. Tadi mas bilang, genta kenapa mas?”

Suara killa tenang, tatap nya sama tenang nya menatap kearah Ibrahim yang juga sedang menatapnya

“genta dinyatakan gugur dalam bertugas killa, dia dinyatakan meninggal dunia”

Sahut  Ibrahim pelan,

“gak mungkin nak Ibrahim, kamu apa tidak salah membawa kabar berita nak?” Tanya ibu killa

“maaf kan saya harus membawa kabar sedemikian buruk ini” jawab mas Ibrahim pelan

Jeritan itu pertama kali terdengar dari perempuan paruh baya yang killa panggil mama, ibu mertuanya. Di susul tangisan dari ibu nya sendiri. Tergesa anggota keluarga lain keluar dari dalam rumah menghampiri mereka. Bertanya perihal apa yang sedang terjadi. Tak ada yang mencoba menjelaskan. Ayah mertuanya lah yang berinisiatif mengambil surat diatas meja, membaca nya, kemudian memeluk mama. Perlahan menjelaskan yang apa yang telah dia baca kepada pasang mata lain yang menunggu kejelasan. Kemudian tangis itu kian ramai, suasana semakin berisik juga semakin menyayat hati.

“genta gak mungkin”

"ya allah genta nak"

"ayah,menantu kita yah"

"ya allah"

“ini gak mungkin kan”

“pasti ada kesalahan informasi”

“killa”

Dan masih banyak riuh lain yang bergaung. Ibrahim menatap perempuan dihadapannya dalam. Perempuan yang masih sama tenangnya dengan tadi. Tak ada tangis yang dibayangkan Ibrahim. Seolah kabar duka itu sama sekali tak mengusiknya.

“dimana genta sekarang mas? Saya ingin menemuinya”

Suara killa tenang, mengejutkan beberapa pasang mata yang sedari tadi menatapnya.

“tubuhnya tidak bisa ditemukan, kami juga kesulitan dalam pencarian karena itu berada di daerah musuh. Killa?”

Killa tak menyahut. Tatap nya masih sama, menunggu apa saja yang akan disuguhkan kepadanya

"jangan memaksakan dirimu"

killa diam mendengar ibrahim, mencoba mengatur nafasnya

"killa"

lagi mas ibrahim memanggil nama istri dari sahabatnya itu, yang tak juga mendapat jawaban. kepala killa tertunduk kearah tangannya

“maafkan genta” 

ibrahim berkata lirih. Sedang Killa meremas tangan nya, enggan membiarkan dirinya pecah

lalu killa tersenyum sembari mengangkat pandangannya menatap kearah pagar rumah yang sudah diterangi oleh lampu taman.

“genta berjanji akan pulang secepat mungkin mas, dan sepanjang sepengetahuan saya genta bukan orang yang suka ingkar terhadap janjinya”

Ibrahim meringis mendengarnya

“cobalah mengikhlaskan dia killa”

“genta akan pulang mas, dia akan pulang”

Killa tersenyum kembali, ditatapnya Ibrahim dengan yakin. Meremukkan hati setiap orang yang melihatnya. Tangis orang di sekitarnya semakin pecah. menikmati duka yang tak diharapkan kehadirannya. Suasana  yang tadinya cerah kini berubah menjadi biru. seperti jingga dilangit yang sudah berganti warna menjadi hitam kelam.

Tanpa ada yang menyadari bahwa killa mati-matian menahan nyeri di dadanya. Mencoba mengontrol pikirannya. Menyangkal setiap berita yang baru saja dia dengar. Perempuan itu diam diam telah menolak kenyataan, menyangkal nya dengan segenap keyakinan yang dia punya.

“tidak, bagaimana mungkin tuhan bisa sejahat itu kepadanya” tekannya di dalam hati

dan tanpa ada yang menyadari, luka itu sedang coba di abaikan oleh hati yang tak mau menerima perih. Dan peperangan didalam diri killa antara keyakinan dan kenyataan telah dimulai. Awal mula dari hari hari panjang nan tak nyaman.


Komentar