Daun Terakhir di Ranting Kecil
"Dua puluh tiga hari lagi bukan waktu yang sebentar nada"
Ucap seorang perempuan ber netra kecoklatan itu
"Gue tau Cha"
Balas nada lembut
"Lalu kapan lu akan ngasih tau dia? "
"Sudah"
Balasan Nada tersebut membuat Icha memalingkan wajah nya ke arah Nada. Mencoba menyerobot ke dalam pernyataan Nada barusan, mencari celah kebohongan
"Lalu apa yang dia katakan? "
Nada tak langsung menjawab. Juga tak membalas tatapan Icha.
Perempuan itu jelas kesulitan memberikan jawaban. Seolah sedang menolak mengingat kenangan yang masih segar itu.
"Nada, tell me. Apa yang dia katakan? "
Lagi, Icha menuntut jawaban dari sahabatnya itu
"Dia menolak"
Singkat jawaban Nada, namun mampu menghentikan nafas Icha sejenak.
"Dia menolak untuk datang, katanya akan sangat berbahaya jika dia datang. Lu tau kan anak-anak nya ga tau tentang gue. Lagi pula istri nya gak ngasih izin, dan di hari yang sama dia udah berjanji ngajak anak anak nya liburan. Ke taman safari"
Nada tertawa rendah setelah mengatakan itu. Matanya masih menatap hitam malam dengan lembut. Berusaha memahami keputusan tuhan atas takdir nya.
"Nada"
Icha menatap Nada semakin lembut. Bunga di depan nya seperti kelopak dandelions yang jika salah pegang sedikit saja maka akan berguguran.
"Gue gak apa apa Cha, gue ngerti bahwa ini yang terbaik yang bisa dia lakukan untuk melindungi cerita yang dia bangun agar tidak rusak. I'm fine. Kan lu yang bilang, gue manusia paling pengertian di dunia ini"
Nada terdiam sejenak. Mengambil nafas dengan berat, sesak di dada nya serasa akan membunuhnya sebentar lagi
"Dia bilang ga mau ngecewain anak-anaknya"
Nada menoleh ke arah Icha. Menatap mata Icha dalam. Seolah meyakinkan lawan bicara nya ini bahwa semua baik baik saja.
"Tapi kalau boleh jujur, bukan nya gue anak nya juga ya?"
Nada tersenyum tipis sembari menggigit bibir nya kuat. Mencoba menampilkan raut wajah bahagia nya sekuat tenaga, mencoba memahami dan memaklumi segala hal.
Sedang Icha meringis melihat nada. Di peluk nya perempuan dihadapannya itu dengan kencang. Mencoba memberikan rasa perlindungan kepada sahabatnya ini
"Bego! . Lu ga perlu berlagak jadi malaikat di depan gue Nad"
Nada membalas pelukan itu dengan lemah. Awal nya tawa yang di berikan Nada, tawa rendah seperti sebelumnya, hingga perlahan tawa itu berubah menjadi isak tangis pelan. Tangis yang dia tahan hingga membuat sesak dada nya beberapa hari belakang ini.
"Nada bego, lu manusia terbego yang pernah gue temuin. Astaga tuhan ku"
Icha mempererat pelukan nya, sedang suara tangis Nada semakin kencang terdengar
"Gue kurang apa Cha, gue cuma minta dia hadir walau cuma sebentar. Gue ga minta banyak Cha. Cuma sedikit waktu dia"
Icha diam mendengarkan perkataan Nada. Hati nya pun sama sakitnya mendengar luka Nada. Terlintas kembali di ingatan nya bagaimana Nada sejak menerima lamaran Fadil. Nada yang bersemangat sekaligus gugup ingin bertemu dan mengundang sang pujaan hati nya itu ke hari bahagia nya. Nada yang begitu bersemangat ingin mewujudkan harapan terakhir nya. Salah satu mimpi indah nya.
"Gue udah berjuang sampai detik ini, menjadi yang paling hebat yang bisa dia banggain. Untuk hari pernikahan gue."
Nada terdiam sejenak setelah mengatakan itu. Seolah sedang berusaha mengendalikan diri agar tak terlalu hancur.
"Gue ga nuntut semua waktu yang udah dia lewatin di hari penting gue selama ini Cha. Gue cuma minta satu hari itu dia ada. Gue cuma mau ngerasa normal di hari itu cha. Kayak orang orang. Gue salah? "
Lanjut Nada pelan
"Lu ga salah sayang. Ga pernah salah dalam kisah ini. Bukan lu villain disini"
"Dia ga mau milih gue cha. Bahkan gue ga minta dia milih antara gue dan perempuan itu. Tapi dia milih, dan itu bukan gue Cha. Baik dulu maupun sekarang. Masih tetep bukan gue Cha. Bukan gue. "
Isak tangis nada semakin dalam terdengar. Begitu remuk di dalam jiwa nya. Membuat siapapun yang mendengar tangis itu ikut merasakan sesak nya.
Icha tau persis, kepingan yang tersisa, yang di jaga nada dengan begitu hati hati selama ini, telah hancur. Menjadi serpihan luka yang menancap di hati perempuan manis ini. Lebih dalam dari luka sebelumnya
Icha yang melihat sedari dulu bagaimana sahabat nya ini bangkit dari luka nya, membangun kepingan harapan, berdamai dengan keadaan serta mencoba mengerti serta memaafkan orang orang yang telah menghancurkan nya.
Icha masih ingat betul saat dia bisa melihat harapan lagi di mata Nada. Dia masih sama ingat nya saat dia mengatai Nada gila saat sahabat nya itu mengatakan bahwa dia telah mengerti tentang takdir nya
"Mereka hanya sedang jatuh cinta Cha. Gue pikir gak ada yang menginginkan peran jahat. Cerita yang cacat. Mereka hanya membangun mimpi dan cerita indah mereka"
Yang Icha balas dengan makian. Tapi senyum aneh di wajah Nada sore itu menjelaskan pada Icha bahwa sahabat nya ini hanya sedang menyelamatkan diri. Dengan cara memaafkan.
Tapi begitu pula Icha paham bahwa harapan yang di bangun sahabat nya ini jelas akan menghancurkan nya lebih hebat dari sebelumnya.
Harapan kecil dan terakhir.
"Gue cuma pengen ayah dateng dan ngeliat bahwa tugas yang udah dia tinggalin sejak dulu, sekarang akan di ambil alih oleh orang lain. Gue cuma pengen ayah juga ada disana untuk ikut ngerasain kebahagiaan yang ada hari itu. Bahwa putri nya ini juga bisa terlihat lebih cantik dari biasanya. Gue pengen ayah disana. Di hari pernikahan gue"
"Lu bayangin deh Cha, indah banget ga sih nanti di atas pelaminan, bakal ada nyokap sama bokap gue. Lengkap, meluk gue dengan senyum bangga mereka. Atau ayah yang mungkin akan nangis waktu para saksi ngucapin kalimat sah dengan lantang. Ahh indah banget Cha, hati gue berdebar bahkan hanya ngebayangin hari itu."
Icha jelas meringis mendengar harapan sederhana itu, sekaligus sangsi akan harapan itu, mengingat bagaimana hidup teman nya ini dahulu hancur, dan sekarang sahabatnya ini mengharapkan sang penjahat menjadi pahlawan mimpinya.
Dan dia benar, malam ini dilihat nya manusia paling kuat yang dia kenal, kini begitu hancur. Melebihi apapun.
Nada nya telah hancur untuk kesekian kali.
Lagi-lagi karena cinta pertamanya. Ayahnya sendiri;
Komentar
Posting Komentar