Belati
Luka ku belum sembuh. Bahkan darahnya saja masih belum berhenti untuk keluar. Namun pasti kamu tidak mengetahui itu atau bahkan tidak pernah peduli dengan hal tersebut. Aku sudah mengalah, sudah mundur dan tidak berniat untuk membalas apapun yang sudah terjadi. Tetapi, entah mengapa itu tidak membuat kamu cukup dan bersenang diri. Padahal sudah aku berikan kemenangan itu kepada mu. Membiarkan mu berpikir bahwa kamu lah terhebat dan juaranya.
Lalu tiba tiba kamu tancapkan lagi belati yang sudah aku
cabut kemarin. Di atas luka yang hanya aku tutupi dengan sehelai kain hitam. Tidak
menghentikan aliran darahnya memang. Tapi setidaknya hitam tak memberi tahu
kepada orang orang bahwa luka itu masih basah. Dan dirimu ternyata tidak puas juga jika
hanya menancapkannya. Lantas kamu tarik putih besi itu ke sembarang arah. Membuat luka
nya semakin melebar. Lagi lagi aku lengah untuk melindungi aku.
Aku kira memang kamu tidak akan pernah berhenti sampai kapan
pun. Meski nyawa ku sudah tidak terikat lagi dalam raga. Meski tubuh ku sudah terbujur
kaku, lepas ia dari segala hiruk pikuk dunia. Bahkan sekalipun tubuh ku sudah habis
termakan belatung, kamu masih akan tetap sama. Menghujani ku dengan segala
tuduhan dan vonis bersalah.
Aku yang kamu tikam dari belakang, lantas aku yang di tunjuk
sebagai si jahat yang paling kejam. Kepingan mana lagi yang harus aku hancurkan
untuk mengalah demi membuat mu puas dan bahagia? Sedangkan sudah tadak bersisa
lagi aku.
Entah dendam seperti apa yang kamu tanam di dalam hati mu.
Entah kesalahan apa yang telah aku perbuat. Tapi sepanjang yang aku ketahui,
satu satu nya kesalahan ku adalah terlahir bersama darah mu. Terikat bersama
benang tipis takdir. Tapi seharusnya engkau pun bisa mengerti, bahwa itu
dibawah kendali Tuhan, bukan aku yang meminta apalagi mengaturnya.
Tapi seandainya kamu tahu, bahkan yang sudah sekarat ini, masih
bisa sangat renyah untuk tertawa. Masih dengan rapi membuat kamu indah untuk di
dengar semua orang, Seandainya kamu mengerti bahwa tidak ada pengharapan
sedikitpun yang aku tanamkan kepadamu. Telah aku bebaskan kamu dengan tanpa
dendam sedikitpun.
Meskipun jauh di dalam aku, ada rasa lelah yang tidak bisa aku
jabarkan. Ada rasa nyeri yang begitu sakit meremas dada ku. Menjulur
ke seluruh inchi tubuh ku. Sehingga aku begitu ingin mencabik cabik diri ku
sendiri. Luka yang ternyata sudah tidak bisa aku definisikan.
Atau mungkin,
Sekarang memang sudah mati aku kamu buat. Berkafankan kecewa
yang begitu tebal. Menjadi tumbal untuk perasaan yang begitu ingin kamu
rasakan. Dan setelah kematian ku, Semoga
setelah ini, kamu bisa berbahagia dan menari dengan riang gembira.
Satu yang perlu kamu ketahui, bukan kebencian yang tertulis
di batu nisan ku. Tapi kecewa yang tidak lebih besar dari kepalan tangan mu. Kekal
dan abadi tidak bisa di ganti dan di buang.
Selebihnya aku hanya mampu mengucapkan kata selamat kepada mu.
Karena telah berhasil merusak total seluruh aku, demi membangun rasa puas mu.
Dan tenanglah engkau di keabadian. Dalam lantunan doa dan
caci maki yang rutin aku terbangkan ke langit. Penuh cinta serta kebencian.
Komentar
Posting Komentar