Dara dan Mereka

 

Jam telah menunjukkan 2 dini hari saat seorang bartender menyuguhkan gelas minuman beralkohol yang kesekian ke hadapan  seorang wanita muda.
Wanita berbaju kaos putih itu menerima gelasnya dengan senyum ramah. Dia belum mabuk, mungkin sudah, tapi tidak terlalu parah. Karena Dara, nama wanita itu. Masih bisa menyadari teman di samping nya yang menjadi pawang nya malam ini. Resa sudah duduk satu jam lebih di samping Dara, semenjak saat dia mendapat telepon dari sahabat dekat nya itu. Mengawasi Dara, sembari menyesap wine nya yang tak kunjung habis.

"Gue tau lu kuat minum, tapi malem ini lu udah terlalu banyak minum. Ini gelas terakhir oke. Habis ini kita cabut"


Dara menghela nafas nya perlahan mendengar penuturan Resa.


"Gue capek"


Suara itu lirih keluar dari mulut Dara. Mata nya tajam melihat ke depan. Ke arah kerumunan manusia yang masih asik menggerakkan tubuh nya mengikuti alunan musik.

"Kalau gitu besok gue akan minta Jihan untuk atur jadwal kerjaan. Biar gue bisa siapin liburan kita. Lu mau kemana? Bali? Lombok? Atau LN? "

"Gue kesulitan untuk tetap menjadi waras Res. Ini semakin terasa sulit buat otak gue"


Lagi, Dara menghela nafas nya perlahan. Mencoba mengeluarkan lelah nya lewat udara. Meski selalu gagal. Sekarang perhatian Resa sepenuh nya menghadap ke Dara. Diam mendengarkan. Paham bahwa lelah yang di bicarakan bukan lah hanya sekedar lelah. 


"Padahal semua nya berjalan lancar meskipun ada sedikit kendala. Tapi entah kenapa, gue capek banget. Gue ga tau masalah mana yang sebenernya masih membebani gue, tapi kayak semua nya ga ada jalan keluar. Gue ada di jalan buntu Res"


Kini mata Dara mengarah ke netra coklat milik Resa. Mata yang menyiratkan kehampaan. Resa paham masalah nya tidak mudah.


"Gue gak mau menyalahkan diri sendiri, tapi di penghujung malam, semua pedang itu seakan mengarah ke gue. Kayak nya emang gue deh Res masalah nya disini. Semua nya memang salah gue deh kayak nya"


Nada suara Dara mengalun layak nya orang yang memohon ampunan. Begitu menderita. Dara jarang mengeluh. Jikapun lelah, dia akan mengeluarkan bebannya itu dengan liburan atau sesekali mabuk seperti ini. Maka jika sekarang Dara mengakui ada beban yang begitu besar yang ada di hati dan pikiran nya, Resa akan mendengarkan nya dengan seksama. Tanpa ada satupun kata yang terlewati. 

Suara bising irama musik dan teriakan manusia sama sekali tidak mengusik mereka. Dan obrolan itu berlanjut. 


"Resa? "


"Iya Dara"


Resa menjawab panggilan itu dengan tegas. Hati nya bersiap dengan segala kegilaan yang akan dia dengar dari sang sahabat.


"Kayak nya lebih baik gue mati aja deh, biar semua orang seneng."


"Dara"


"Lo tau gak, bisikan gila di otak gue makin kuat akhir-akhir ini. Sampe gue berpikir itu memang ide yang bagus."


"Maksud lo, lo mau gantung diri gitu? Atau minum racun? Atau motong nadi lo gitu? Lo gila ya? "


Suara Resa meninggi tanpa dia sadari, meski sedetik kemudian dia kembali bisa mengontrol nada bicara nya. Kedua alis nya nyaris bertemu tak kala dia mendengar tawa renyah dari Dara disituasi yang begitu tegang ini.


" Ya enggak lah. Lo pikir gue apaan. Gue cuma kadang tiba-tiba terlintas aja gitu pas gue lagi ngapai gitu, misal nya gue lagi hiking, trus otak gue kayak berbisik, apa gue loncat aja dari tebing itu? Atau ngebiarin tubuh gue tenggelem di dasar air hingga kehabisan nafas? Atau gue belokin aja setir kendaraan gue ke arah berlawanan dengan tiba tiba? Atau gue bisa lari ketengah jalan  di tengah sibuk nya lalu lintas? Lo tau gak, ide ide kreatif itu semakin hari semakin sering bermunculan layak nya perintah"

"Sejak kapan? "

"Sudah sejak lama sebenernya, cuma ya akhir akhir ini aja gue ngerasa semakin kuat mereka muncul. Jujur gue takut Sa. Jadi, gue putusin untuk ceritain ke lo. Sebelum gue kalah. "


Tatap dan nada suara Dara berubah menjadi lebih santai. Perubahan emosi nya memang sedemikian cepat. Mungkin efek dari alkohol yang di minumnya. Di tegak nya habis vodka di gelas nya. Nyaris tersedak saat tiba tiba Resa memeluk tubuh nya erat.


"Gue disini bego. Lo cukup dengerin gue, jangan mereka yang berbisik di otak lu. Gue disini Ra. Gue disini"

"Sa, apaan sih"

"Makasih lo udah mau cerita lebih cepat Ra. Lo hebat karena bisa bertahan ngelawan mereka sejauh ini. Jangan takut, gue disini"

Dara tak membalas pelukan itu, tapi air mata nya turun dengan sangat lancar membasahi pundak Resa. Mencoba meluruhkan resah yang telah lama bermain di hati nya. 
.
.
.
.
Jam menunjukkan pukul 5 pagi saat Resa mengganti baju milik Dara yang sudah tertidur sehabis menangis di klub selama dua jam lebih. Resa menatap dalam kearah sahabat nya itu. Menghela nafas perlahan sembari meletakkan handphone nya ke atas nakas setelah selesai mengirim sesuatu ke seseorang. Dia bersiap untuk tidur juga. Ada hari esok yang akan panjang.


"Gue gak akan biarin lu kalah. Sekarang giliran gue yang akan bantu lo untuk sembuh. Pasti. Gue sendiri yang akan jamin itu"


Tak ada yang menjawab omongan yang Resa ucapkan. Hanya langit malam yang bersiap untuk menyambut terang.

 Begitu pun dua manusia yang sedang mempersiapkan diri kembali melawan dunia dewasa yang tak melulu menyenangkan itu.
.
.
.
"Jihan, tolong atur ulang jadwal pekerjaan Dara. Buat selonggar mungkin. Kosongkan jadwal nya dua hari kedepan. Saya dan Dara harus ke bali, mengunjungi Ibu irana. Terima kasih ya. Tenang, bonus liburan mu akan ada di akhir bulan"


Jihan membaca pesan itu dengan kebingungan. Seingatnya ibu irana adalah dokter pribadi mereka, yang sudah lama tidak dikunjungi sejak hari itu. Meskipun begitu, hanya ada satu pertanyaan yang ingin dia cari jawabannya


"Siapa yang membutuhkan psikiater? "

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebab aku akan baik baik saja. Nanti.

AGA & RAINA : PERTEMUAN

SURGA TERSEMBUNYI ITU BERNAMA PEKAJANG