PEREMPUAN DI LORONG WAKTU; Pohon kehidupan
"Killa, kamu mau mempercayai sesuatu? "
Dahi Killa mengerut kala mendengar pertanyaan Genta barusan
"Maksud mu? "
Ucap Killa kebingungan. Genta tersenyum sembari menarik tangan kekasihnya itu agar mengikutinya.
"Genta, kita mau kemana sih? "
"Ikut saja Killa. Kamu akan tahu itu nanti"
"Kamu mau ngasih aku suprise ya? "
Genta tertawa mendengar killa, langkah mereka berhenti di sebuah pohon kecil yang nampak nya baru saja ditanam itu.
"Ada sebuah keyakinan tentang pohon kehidupan"
Suara Genta memecah kebingungan Killa
"Lalu kamu mau aku mempercayai keyakinan itu? "
Ucap Killa jenaka
"Yap, aku pengen kita berdua mempercayai nya"
"Genta ku sayang, itu hanya mitos, musyrik ah"
"Killa ku sayang, aku gak nyuruh kamu untuk menyembah nya"
"Ya tapikan itu sama aja cintaa"
Killa menatap Genta dengan jahil. Sedang Genta menatap perempuan nya itu dengan gemas
"Jadi ini mau di lanjutin apa enggak? "
Genta bertanya dengan nada kesal yang sengaja dibuat buat. Dan Killa tertawa mendengar nya
"Yaudah iya, terus kenapa dengan keyakinan itu? "
Genta tersenyum mendengar tanya Killa. Bersiap melanjutkan penjelasan nya
"Sekarang kamu lihat pohon kecil ini? Pohon ini aku tanam tadi pagi. Ada pita disini, sudah ku beri tanda juga"
"Dan? "
Suara Killa menyimak diantara kebingungan nya, sembari mengikuti permainan Genta.
"Dan sekarang aku pindah kan sebagian nyawa ku kepohon ini"
Tangan Genta bergerak seolah sedang mengambil sesuatu dari depan dadanya dan seolah menaruh sesuatu dipohon kecil itu, dengan raut wajah yang setengah mati di usahakan nya untuk terlihat serius.
Killa memperhatikan gerakan Genta sembari menahan tawanya. Dia menikmati situasi nya sekarang.
"Nanti setelah kepulangan kita, tak akan ada yang mengurus pohon ini. Alam akan memelihara nya dengan baik"
Mata Genta tak lepas dari pohon berpita merah itu.
"Bagaimana kalau ada yang menebang nya? "
Tanya Killa jahil
"Kamu lihat pohon gede disebelah sana? Aku sudah menyuruh mbak mbak tukang ketawa di pohon gede itu untuk menjaga nya juga. Jadi gak akan ada manusia yang berani menebang nya"
Genta menjawab pertanyaan itu dengan lebih jahil lagi. Killa tertawa lepas. Di aturnya lagi nafasnya. Mencoba kembali ke topik mereka yang belum selesai
"Oke oke. Balik lagi, trus maksud dari pohon kehidupan itu? "
Mata Killa melirik sekilas ke pohon kecil itu. Lalu kembali berpusat ke arah Genta.
"Nanti, jika dimana aku tiba-tiba menghilang dari peredaran mu. Saat kamu kebingungan apakah aku masih hidup atau sudah mati, kamu bisa dateng kesini. Kamu cari pohon berpita merah ini."
"Lalu? "
"Jika kamu temukan dia masih tumbuh dengan baik, maka artinya aku juga masih bernafas di bumi yang sama dengan mu. Begitupun sebaliknya, jika yang kamu temukan pohon ini tak ada. Itu artinya aku sudah berada di langit"
"Kamu di langit karena sedang naik pesawat kan? "
Lagi, Killa bertanya dengan jahil
"Salah, aku sedang terbang dengan polisi bulan sabit dan tongkatnya"
Killa tertawa renyah mendengar jawaban Genta
"Tapi genta"
Genta menatap lembut ke arah Killa yang kini menatapnya dengan dalam
"Apakah akan ada situasi itu ku temui?"
Killa bertanya pelan, menelisik netra gelap Genta dengan seksama
"Tentu aku tidak akan membiarkan cantik ku ini berada disituai kesusahan seperti itu"
Genta tersenyum lembut, sembari mengusap penuh kasih pucuk kepala perempuan mungil di hadapan nya ini. Sedang senyum Killa merekah hangat, menerima bentuk kasih yang Genta berikan.
......
Killa menangis tersedu di depan sebuah pohon yang terikat pita merah. Pohon yang tumbuh subur dan sehat itu, pohon kehidupan milik Genta.
Sesak lagi-lagi memenuhi dada Killa. Dia hanya hendak mengenang perjalanan nya bersama Genta sebelum memulai kehidupan nya yang baru.
Tapi seolah Genta kembali membuang bulat bulat niat Killa. Segala usaha dan perjuangan Killa untuk melepas Genta, kini runtuh kembali ke titik nol.
"Lihat Ta, pohon ini tumbuh subur dan besar. Dia masih hidup Ta. Hidup"
Semilir angin meniup pelan tubuh Killa, seolah membalas perkataan Killa barusan.
"Apakah, apakah aku harus percaya Ta? Bukan, maksud ku, bolehkan kalo sekarang aku mau mempercayai mitos itu Ta? Aku bolehkan juga percaya kalo kamu juga masih hidup Ta?"
Pertanyaan Killa terlontar dengan nada mendesak. Namun tak ada yang memberi jawaban. Membuat Killa nyaris frustasi
"Genta, kasih tau aku, kalo kamu juga masih hidup dan bernafas di bumi yang sama dengan aku kan Ta?"
Lagi, hanya semilir angin yang menjawab pertanyaan Killa tersebut. Killa menangis semakin dalam, meskipun sepersekian menit setelahnya, Killa menghapus air matanya dengan sedikit kasar. Mengumpulkan kekuatan untuk tetap bertahan.
"Kamu bilang aku gak akan menemui situasi se menyusahkan ini Ta. Tapi sekarang kamu liat aku, aku yang sekarang berdiri dengan keyakinan dan kebingungan aku disini selama 8 tahun lamanya"
Nada suara Killa sedikit naik sembari melihat ke arah pohon besar itu. Seolah yang didepan nya bukan lah sebuah pohon melainkan Genta. Cinta nya.
Pohon besar itu bergemerisik disapu angin. Daunnya gugur sedikit menghujani Killa.
"Mau sampe kapan sih Ta? Harus berapa lama lagi aku nunggu kamu Genta? "
Kali ini nada tanya Killa melemah. Seakan putus asa
"Enggak Genta, aku gak bisa lagi untuk terus nunggu kamu."
Hati Killa berdenyut hebat merasakan nyeri setelah kalimat itu ia lontarkan. Jelas sekali bahwa kalimat itu hanya omong kosong belaka untuk nya.
Killa berbalik dengan cepat melangkah menjauhi tempat itu, secepat bayangan Genta yang kembali hadir tanpa permisi.
. .
"Aku bener bener pake banget bener bener minta maaf ke kamu sayang, karena harus pergi sekarang"
"Iya aku gak masalah kok sayang. Kamu jangan beban gitu dong. Yang penting kamu selamat dan pulang ke aku ya"
"Yo itu pasti dong cinta. Tunggu aku balik ya sayang ku manis ku pujaan hati ku hehe"
"Oke bos, aku pasti bakal nungguin suami ku tersayang ini dengan sabar dan penuh kasih. Berapa lama pun itu, aku pasti bakal nungguin kamu"
Killa tersenyum setelah mengatakan itu dengan gestur perkasanya. Genta tertawa manis sembari memeluk tubuh Killa erat. Di kecupnya kening Killa lembut, setengah tak rela meninggalkan istrinya itu untuk bertugas.
..
Killa terduduk di atas rumput hijau itu. Tangis nya meluap kembali memenuhi padang hijau itu.
Lagi lagi, dia kembali memutuskan untuk menunggu. Menunggu kepulangan Genta dengan tabah.
Sebab ini bukan perkara janji, perasaannya lah yang memiliki porsi lebih besar dari pada rasa lelahnya. Rindu yang dia tabung bertahun tahun lamanya, yang sesekali mengoyak jiwa nya dengan brutal, kembali dia depan dengan hangat. Dia setidak rela itu untuk melepaskan Genta. Cintanya yang sedang tersesat.
Komentar
Posting Komentar