Kepingan Yang Lebur
Suara ombak malam itu sedikit lebih kencang dari biasanya. Malam pun terasa lebih gelap dari seharusnya. Padahal bulan dan para bintang berhamburan menghias galaksi malam itu.
Seorang perempuan berdiri di tepi pantai itu dengan tenang. Matanya membelah kelam lautan sampai di ujung garis khatulistiwa. Menikmati sapuan angin yang mencoba mengusirnya perlahan dari sana. Tapi raga itu sama sekali tak bergeming. Semua orang tau bahwa hanya sebuah tubuh yang berdiri disana.
Tak ada yang salah dengan dunia. Dia masih berputar sesuai poros nya. Masih sama berisiknya seperti yang sudah sudah. Tapi, ada sebuah gelas kaca yang sudah hancur menjadi serpihan, ada siang yang terasa lebih panas, ada nada yang lebih tinggi, ada pembicaraan yang telah membunuh sebongkah hati yang memang sudah cacat. Ada darah yang berhamburan di sepanjang lantai, dan ada manusia yang tetap bernafas tapi sudah menjadi mayat.
Mata itu sudah tidak mengeluarkan hujan lagi. Ada nada tawa yang sudah menggema di seluruh ruangan.orang orang telah bernafas lega bahwa hari kelam itu telah berlalu.
Tapi, yang orang orang tak ketahui . bahwa yang telah dianggap sembuh, sebenarny tak pernah sedikitpun sembuh.
Perempuan itu diam dalam kelam nya. Mengadu tanpa kata pada setiap inci lautan, langit malam, dan angin kesukaannya. Membuat semesta yang bersinar,meredup tanpa menghilangkan cahayanya. Ada lara yang sedang menari layaknya api yang berkobar terkena minyak. Begitu megah dan lincah.
“mau sampai kapan?”
Sebuah suara berat mengintrupsi nyanyian ombak. Berdiri tepat di belakang sang gadis, menatap sakit punggung kecil itu
Tak ada jawaban.sang gadis masih asyik dengan diam nya
“akan lebih baik jika kamu menangis di banding harus diam seperti ini, ami”
Ami, nama sang gadis itu. Tak juga membuka suara. Tapi nafas nya semakin Panjang dan berat di hembuskan. Mata nya masih menatap lautan. Namun mungkin para ombak menyadari perubahan sorot mata kecil itu. Lembut, ombak menyapa kakinya. Tak se tajam seperti tatap mata gadis itu sebelumnya.
“kalau kamu menipu diri mu sendiri, bagaimana kamu bisa sembuh ami”
Jeda Panjang yang di ambil sang gadis sebelum lirih suaranya terlepas
“memangnya aku masih bisa sembuh?”
Pertanyaan itu terlontar pelan, sedang tubuh mungil itu masih menatap lautan malam dengan khidmat
“masih, tentu saja masih bisa.asal kamu mau menerima luka itu terlebih dahulu”
Gadis itu tertawa pelan, seolah sang lelaki yang berdiri di belakangnya itu baru saja melontaarkan kalimat lucu
“menerima? Akhir akhir ini aku terlalu sering mendengar kata itu”
Laki laki berumur pertengahan dua puluh itu menghebuskan nafas berat
“kalimat menerima yang baru saja aku lontarkan tentu saja memiliki konteks yang berbeda ami”
Hening kembali mengambil alih suasana. Para penghuni laut gusar menunggu jawaban, begitu pun sang mega yang mulai menutupi para bintang dengan gumpalan awan abu. Seiring dengan lengkungan bibir yang tercipta di setiap sudut mulut sang gadis. Mata itu menatap tajam kembali hitam lautan. Membuat semuanya bingung, tak bisa membedakan antara amarah dan kesedihan yang mungkin sudah bercampur disana.
“Bagaimana aku bisa menerima kesedihan ku, jika luka nya tidak di akui oleh dunia?”
Ka;imat itu terlontar cepat seiring dengan raut wajah sang gadis yang berubah
“aku yang selama ini berdarah darah, merangkak ke meja pengadilan meminta pertolongan. Tapi..”
Ada jeda yang di ambil sang gadis, nafas nya memburu seolah mengejar kalimat yang barusan ia lontarkan
“tapi, sang pelaku justru di beri keringanan. Berapa banyak yang membela nya, meskipun tau aku kemarin nyaris sekarat. Aku yang di pinta untuk menumpahkan seluruh pemakluman untuk orang yang bahkan tidak menunjukkan rasa bersalahnya. Aku yang divonis terlalu kejam”
“aku”
“aku mas, aku yang bahkan sudah nyaris kehabisan darah pun masih di paksa untuk memberikannya darah ku.”
Nada itu tidak meninggi, rendah tapi penuh penekanan
“aku disini yang berjuang menyelamatkan diri ku sendiri, sedang kan pembunuhnya hidup seolah tak pernah melakukan apapun. Yang dengan ringannya tersenyum dihadapan ku, seolah tak pernah menghancurkan hidup seseorang”
Ombak kembali cepat memeluk kaki sang gadis, mencoba mengambil semua amarah yang menyelimuti setiap inci tubuh sang gadis. Dada gadis itu naik turun, terlihat sekali bahwa ia sedang mencoba mengendalikan emosinya
Sang lelaki diam menatap punggung sang gadis yang kini terlihat sangat rapuh dan tak tersentuh. Sang mayat hidup
“aku tidak meminta dia di hancur kan sama menyakitkannya seperti yang aku rasaakan. Aku sudah belajar mencoba mengikhlaskan apa yang telah terjadi, meskipun belum tamat juga sampai detik ini.”
Ada sorot kesedihan didalam Netra hitam yang masih menatap lautan dengan tajam. Entah ada yang menyadari atau tidak, tapi buku buku jari gadis itu telah mengepal hingga membuat sang telapak tangan putih itu berubah menjadi merah
“tapi, melihat ternyata jiwa itu tak menunjukkan rasa bersalahnya sedikit pun, membuat ku hancur lebih dari apapun. Luka ku di anggap bukan permasalahan penting. Justru aku yang di tuduh melemparkan mata pisau ke arahnya”
Setelah mengakhii kalimatnya, Gadis itu tertawa dengan sangat kencang. Hingga tubuh mungil berbalut dress warna hitam itu membungkuk sedikit.membuat keadaan semakin terasa menyesakkan. Untuk para lautan, untuk langit dan untuk sang lelaki. Lama sang gadis terbuai dalam tawanya sendiri
Lalu pelan sang gadis berbalik kearah sang lawan bicaranya. Memperlihat kan derai air mata yang keluar dengan tawa yang masih mengalun indah tapi terasa menyakitkan
“dan aku di tuding jahat karena memutuskan hubungan dengan ayah ku. Ayah yang telah menghancurkan ku tanpa belas kasih sedikit pun”
Gadis itu diam sejenak dnegan bibir yang masih tersenyum, lantas melanjutkan kalimatnya
“Jadi, luka ku yang mana? Yang harus aku terima, sedangkan disini aku yang di vonis pemberi luka”
Kedua Netra itu saling bertatap dalam. Angin berhembus lebih pelan, menerbangkan rasa rasa yang keluar dari dua tatapan itu. Laki laki itu maju memeluk tubuh lelah sang gadis. Mencoba menyalurkan rasa bahwa sang gadis itu tidak sendirian di sini. Ada orang orang yang bisa mengerti dengan baik tentang luka sang gadis. Sang lelaki mengembuskan nafas pelan. Seiring dengan tangis sang gadis yang semakin Panjang dan lirih dalam dekap sang lelaki, yang juga semakin erat. Satu dunia harusnya tahu, bahwa raga ini benar benar akan kehilangan jiwa nya. Perempuan baik baik saja ini sebenarnya begitu butuh pertolongan.
“Maaf ami, maaf untuk semua luka mu ini. maaf”

Komentar
Posting Komentar