Gamang
Jangan engkau jadikan aku seperti Kiska, sang paus malang yang harus terkurung di dalam kolam megah
nya sendirian. Karena Istana yang kau tawarkan dengan begitu megah itu, bak
penjara paling menyedihkan, saat tak kau limpahkan perhatian mu disana. Jangan kau
jadikan aku seperti Kiska, sang paus cantik yang harus menanggung kesepian sepanjang
hidupnya. Karena di dalam hubungan sempurna yang kau buat, aku seperti merasa
sendiri, karena entah mengapa rasanya masih begitu sibuk dirimu kesana kemari.
Malam yang seharus nya aku dapati peluk mu, terasa begitu
dingin saat hangat mu hambar menyentuh kulit ku. Tangan mu memang memegang ku
erat, tetapi aku tahu kamu telah meninggalkan ku sendirian. Ku dapati binar ku meredup saat
melihat tatap mu yang penuh dengan semangat, tapi tidak mengikut sertakan aku. Saat
bibir mu mengecup ku dengan penuh kelembutan, hati ku merengut perih saat ku
rasakan ada bayang lain yang menyelinap di lintasan syaraf otak mu.
Kamu mengubah tanpa berubah, dan sial nya aku sadari itu
dengan begitu terlambat. Jenuh yang kamu bungkus dengan semangat bahagia mu, berhasil
menipu ku. Kalimat cinta yang terus kamu lontar kan, berubah layaknya nyanyian
sumbang tak bernada. Tidak semerdu dahulu, meski tetap indah di mata orang lain. Aku
gamang, berdiri di pinggiran jurang kelam. Menyadari bahwa semua nya sekarang
berada di tangan ku, keputusan keputusan riskan yang harus segera ku pilih.
Apa yang harus aku lakukan? Mengikuti permainan mu ini atau
memberontak dari sangkar emas yang dahulu begitu aku banggakan. Saat dengan baik
ku sadari bahwa aku tidak siap akan semua kehilangan, namun semua drama ini menggerogoti
hati ku pelan pelan menjadi rusak. Aku bingung, meskipun aku paham dengan betul
bahwa akhir dari semua ini adalah kematian ku. Tapi cara yang mana yang harus ku
pilih? Mati karena kehilangan hati dan raga mu atau mati dalam pelukan hangat mu
meski terasa hambar.
Komentar
Posting Komentar