Postingan

Menampilkan postingan dengan label Surat

Pesawat Kertas itu Akan Terbang tinggi

Tak apa, aku benar benar akan melepaskan mu dengan hati yang sangat lapang. Dengan harapan yang begitu tipis. Berjalan lah dengan tenang. Ringankan langkah mu, cukup gelisah ku saja yang semakin memberat. Aku paham ini akan sulit awalnya untuk ku lalui. Tapi akan ku paksa sekeras yang ku bisa lakukan. Agar terbiasa untuk tak lagi ada kamu. Tak lagi tentang kamu. Meski butuh waktu untuk bisa menerima dan mempercayai kalimat "jika ia milik mu, maka ia akan kembali" Namun akan terus ku coba. Dengan segala ketakutan ku, kesedihan ku, ketidak relaan ku. aku akan berdiam diri tak mengantarkan mu ke pintu keluar. Maafkan aku, itu berat. Dan aku terlalu khawatir tak bisa menahan diri untuk tidak mendekap mu lebih erat. Jujur saja s eandainya bisa, aku sungguh ingin memelukmu. Menyimpan hangat mu sebanyak yang aku bisa. Agar bisa ku ingat ingat kembali saat rindu menerjang ku diwaktu waktu tertentu. Percayalah, aku sudah menyiapkan diri meski tidak pernah benar benar siap....

Surat untuk mu, yang kecewa atas keputusan ku

 Teruntuk mu yang sudah berbaik sangka padaku. Yang menyayangi ku dengan segenap harapan mu. Ini adalah sebuah surat kecil yang ku tuliskan pada dirimu yang kecewa akibat aku. Akibat pilihan ku.  Yang harus kamu ketahui adalah aku sama sekali tak ingin mengecewakan siapapun, termasuk dirimu. Atas perubahan ku, atas jalan ku yang mengejutkan mu karena berbelok tiba-tiba. Percayalah aku sudah berusaha sekuat yang ku bisa untuk memilih pilihan yang tak akan mengecewakan siapapun. Menyakiti siapapun.  Tetapi, Kita tak akan pernah tahu kemana arah takdir berjalan. Sekarang, mungkin kau akan kecewa pada ku, karena keputusan yang ku ambil mungkin tak bisa kau terima dengan nalar mu. Mungkin ini memang sebuah keputusan yang buruk menurutmu. Tapi, ku harap kau pun mau belajar mengerti. Bahwa aku punya alasan. Mungkin saat itu aku tak memiliki pilihan. Atau aku punya tapi tak banyak. Dan di antara sedikitnya pilihan yang tersedia, ini yang terbaik yang bisa ku pilih; untuk saat ini...

Katamu

 Kau katakan kemarin Bahwa hati mu,jiwa mu begitu menyukai hujan. Kamu selalu memberitahukan orang orang. Bahwa kau begitu merindukan hujan yang sudah lama tak bertamu. Lalu hari ini tuhan kirim kan hujan  Rinai nya datang ingin memeluk mu Sang surya mengalah tertutup kelabu Agar kau dapat menyampaikan rindu mu pada hujan Tetapi kenapa.. Kau malah berlari menghindari rintik nya? Kau malah membuka lebar payung mu untuk berteduh Kau malah menggerutu saat dingin nya menyelimuti mu Kau malah pergi terlelap dalam mimpi mu Meninggalkan hujan turun sendirian tanpa sambut mu Perlahan hujan menghilang Pergi dengan sepi Bulir air nya satu persatu berhenti Kembali ke tempat persembunyiannya di angkasa Begitu menyadari bahwa cinta mu semu Rasa mu adalah tipu Kata mu hanyalah angin lalu Hujan mu berlalu, sesuatu yang mungkin suatu saat akan membuat mu rindu -chi  10:23 PM

Resah

Lembayung senja mulai sampai di ujung kaki langit. Dan nyawa ku tercekat di ujung waktu. Menyadarai tak ada lagi raga mu disini, Tak ada lagi nama ku di sudut hati mu. Jarak yang mulai membentang dan kita yang tak berusaha untuk memotongnya. Kamu dengan segala urusan mu. Dan aku dengan segala pikiran ku. Tanpa tahu bahwa resah yang dulu bersarang di antara kita, kini mulai menjadi nyata. Tanpa sadar, kita telah menjadi usang lalu perlahan menghilang. Gemuruh yang dulu riuh, kini senyap tak bernada. Tempat yang dulu ramai, kini sepi tak bertuan. Perlahan semua kebiasaan itu memburai. Termakan oleh jarak dan ego yang semakin hari membumbung tinggi. Tak perih kah dirimu melihat ini semua? Atau memang ini yang pada akhirnya kau inginkan? Atau memang takdir kita yang sudah seharus nya begini? Haruskah kita membiarkan ini semua berakhir? Haruskah kita membiarkan kali ini ego yang memenangkan pertarungan? 

BUNGA MAWAR MERAH

Kau akan menemukan ku di ujung senja. Kala sang mentari sudah selesai melaksanakan tugasnya. Di ujung garis khatulistiwa, ribuan tangkai bunga mawar merah layu akan menuntun mu pada seikat surat yang tergulung rapi diantara duri nya.   Bacalah. Itu adalah aku yang saban hari menangis meratapi kepergian mu. Yang tersiksa pada perih luka akibat sayatan pisau mu. Jika kau ikut bisa merasakan perihnya luka itu, silahkan teruskan langkah mu. Mawar layu yang menandakan begitu lama kau telah pergi meninggalkan ku akan terus kau temui disepanjang jalan. Gelap, tanpa ada cahaya. Kau harus meraba, untuk bisa mencari petunjuknya. Dan mau tak mau kau harus melewati nya. Agar kau tau betapa aku kebingungan kala itu, saat kau tinggalkan tanpa aba. Kau tinggalkan begitu saja, tanpa pamit. Remang cahaya bulan adalah satu satu nya harapan mu untuk dapat melihat, agar kau dapat meneruskan jalan mu. Nikmati lah segala penderitaan itu. Sebab begitulah aku dulu, yang rela merangkak demi mencari mu yang...

Hujan

Ku namai kau hujan, Sebab setelah bertemu dengan mu, aku kerap kali merasa kelabu tanpa sebab. Yang akhir akhir ini baru ku sadari penyebab hari ku kelabu karena termakan cemburu. Ku namai kau hujan, Sebab kedatangan mu sesuka hati tanpa izin dan pamit. Ku namai kau hujan Sebab sikap mu yang terlalu banyak dingin,  namun tetap ku rindukan kala kau tak datang. Ku namai kau hujan. Sebab selalu ku nikmati setiap tatap mu terhadap ku, layaknya aku yang selalu menikmati rintik nya berjatuhan membasahi bumi. Ku namai kau hujan. Sebab dirimu yang membuat candu seperti  aroma selepas hujan. Jelas penuh aku jatuh cinta kepada rinai hujan. Meski telat aku menyadari banyak hal. salah satunya adalah kenyataan bahwa aku bukan lah satu satu nya yang kau basahi dengan rinai mu. Awal nya sulit bagi hati kecil ini menerima segala yang kau beri di cerita ku.  Tapi perlahan, aku mulai membiasakan diri. Membiasakan diri dengan kepergian mu yang tiba tiba.  Membiasakan diri d...

TITIK BUKAN KOMA

Saat memutuskan berpisah kita sepakat untuk mencari kebahagiaan masing masing. Jika selepas ku, kau menjadi lebih baik, sungguh aku begitu bahagia. Setidak nya segala hal baik pada dirimu bukan semata mata karena adanya aku. Jika itu bukan aku, maka akan ada orang dengan keberuntungan yang bagus menerima nya. Teruslah hidup,teruslah menjadi orang yang baik,teruslah menjadi segala hal yang ku sukai. Agar orang lain bisa tahu seberapa bahagia nya aku memiliki mu dahulu. Meskipun pada akhir nya aku kehilangan mu juga. Aku pun disini akan terus berubah. Patah ku perlahan akan bertunas kembali. Dunia akan terus membentuk ku meskipun tak ada lagi dirimu yang menjadi penjaga ku. Akan ku temui seseorang yang bisa terus menuntun ku dengan benar. Kelak akan ada yang bersedia menggantikan mu untuk menjaga ku. Sama seperti mu yang kelak akan menemukan pengganti ku untuk menemani perjuangan mu. Untuk saat ini mari tidak berpikir untuk kembali. Ingat lah bahwa dahulu kita memilih mengakhiri segala...

TOLONG

Dan aku bukan hati yang kau tuju. Bukan raga yang kau cari kala rindu menerpa. Aku memang lah sebuah rumah. Tapi bukan rumah yang kau impikan. Bukan aku. Sekuat apapun aku berjuang, bukan aku yang kau inginkan. Aku bukan mimpi mu. Tak ada dalam bayangan mu. Tak ada dalam rencana mu. Lihat, aku tahu betul semua ini tapi masih memupuk rasa dengan semangat. Membiarkan kecewa tumbuh subur dan mengakar kuat. Mau bagaimana lagi, sebab aku tak tahu caranya untuk berhenti sayang. Meski bagi ku kau adalah inang yang ku butuh kan dan bagi mu aku adalah benalu yang menyebalkan. Maafkan aku yang begitu tak tahu diri ini. Maafkan diri ku yang mencoba tumbuh di tanah gersang ini. Aku hanya ingin mencoba. Berharap keajaiban memeluk ku erat. Lihat lah, bahkan di antara rintihan luka ku. Diri ini masih menyimpan harapan. Harapan yang sepenuh nya ingin ku sudahi kemunculan nya. Sayang tolong. Tolong ajari aku untuk mati bukan layu. Sebab sekarang saja aku terlampau lelah untuk terus patah namun tetap k...

Sebab aku akan baik baik saja. Nanti.

Aku baik baik saja. Tak apa. Semalam memang tangis ini tak mau berhenti, tapi tenang saja. Esok nya aku masih bisa tertawa dan menjalani hari seperti biasa. Meski dalam tubuh ku,nyeri itu masih ku rasa dalam gema suara gembira ku. Aku tak munafik, ku akui aku cemburu saat pada akhir nya kau memilih dia dibanding diriku. Semalam aku memaki diriku sendiri yang serba kekurangan hingga kau memilih yang lain. Tenang saja, tak ada satupun makian yang keluar dari mulut ku untuk mu. Tapi mungkin esok atau esok esok nya lagi, setelah aku selesai pada fase menyalahkan diri sendiri. Mungkin aku akan mulai menyalahkan mu yang bodoh tak mau memilihku atau kamu yang buta karena tak bisa melihat kelebihan ku. Mata ku tak sembab. Sebab aku tau cara mengatasi nya sesudah tangis ku reda di jauh malam. Tenang saja,mungkin tak ada satu pun manusia yang sadar bahwa hati ku sedang terluka. Patah dan terbakar. Aku jatuh hati diam diam, patah hati diam diam dan kelak akan sembuh pula dalam diam ku. Tunggu s...