Sebab aku akan baik baik saja. Nanti.
Aku baik baik saja. Tak apa. Semalam memang tangis ini tak mau berhenti, tapi tenang saja. Esok nya aku masih bisa tertawa dan menjalani hari seperti biasa. Meski dalam tubuh ku,nyeri itu masih ku rasa dalam gema suara gembira ku. Aku tak munafik, ku akui aku cemburu saat pada akhir nya kau memilih dia dibanding diriku. Semalam aku memaki diriku sendiri yang serba kekurangan hingga kau memilih yang lain. Tenang saja, tak ada satupun makian yang keluar dari mulut ku untuk mu. Tapi mungkin esok atau esok esok nya lagi, setelah aku selesai pada fase menyalahkan diri sendiri. Mungkin aku akan mulai menyalahkan mu yang bodoh tak mau memilihku atau kamu yang buta karena tak bisa melihat kelebihan ku.
Mata ku tak sembab. Sebab aku tau cara mengatasi nya sesudah tangis ku reda di jauh malam. Tenang saja,mungkin tak ada satu pun manusia yang sadar bahwa hati ku sedang terluka. Patah dan terbakar. Aku jatuh hati diam diam, patah hati diam diam dan kelak akan sembuh pula dalam diam ku. Tunggu saja di penghujung waktu. Perlahan aku akan sembuh seperti yang kau mau.
Maaf, aku belum bisa mendoakan agar kalian berdua bahagia. Aku belum sekuat itu. Hati ku belum sebesar itu untuk menerima. Tidak dalam waktu dekat ini. Aku butuh waktu.
Hei,jika kamu membaca ini. Jika kamu tahu bahwa orang yang ku maksud dalam tulisan ini adalah kamu. Maka pahami ini.
Aku bahagia, bahagia karena pernah mengenal mu. Menyenangkan saat berbincang dengan mu. Nyaman sekali duduk bedua dengan mu. Tawa mu yang irit itu, tatap mu yang tajam itu, tingkah mu yang monoton itu. Meskipun candaan mu yang langka itu terdengar garing, tapi aku menyukai nya. Entah sejak kapan aku mulai peduli, aku mulai mau tau semua tentang mu. Aku mulai merindukan mu dan ingin memiliki mu. Tapi seperti nya takdir kita tak menuju arah yang sama. Ini jelas mengecewakan ku. Tapi yang ingin ku sampaikan adalah, meskipun sekarang aku patah karena mu. Sedikit pun aku tak pernah menyesal karena sudah jatuh kepada mu. Ku nikmati segala nya. Proses mencintai mu dan juga merelakan mu. Jadi terima kasih. Karena sudah menjadi bagian dari cerita panjang ku tempo hari. Jadi sekali lagi ku ucapkan, terima kasih.
-chi
01:27 AM
Mata ku tak sembab. Sebab aku tau cara mengatasi nya sesudah tangis ku reda di jauh malam. Tenang saja,mungkin tak ada satu pun manusia yang sadar bahwa hati ku sedang terluka. Patah dan terbakar. Aku jatuh hati diam diam, patah hati diam diam dan kelak akan sembuh pula dalam diam ku. Tunggu saja di penghujung waktu. Perlahan aku akan sembuh seperti yang kau mau.
Maaf, aku belum bisa mendoakan agar kalian berdua bahagia. Aku belum sekuat itu. Hati ku belum sebesar itu untuk menerima. Tidak dalam waktu dekat ini. Aku butuh waktu.
Hei,jika kamu membaca ini. Jika kamu tahu bahwa orang yang ku maksud dalam tulisan ini adalah kamu. Maka pahami ini.
Aku bahagia, bahagia karena pernah mengenal mu. Menyenangkan saat berbincang dengan mu. Nyaman sekali duduk bedua dengan mu. Tawa mu yang irit itu, tatap mu yang tajam itu, tingkah mu yang monoton itu. Meskipun candaan mu yang langka itu terdengar garing, tapi aku menyukai nya. Entah sejak kapan aku mulai peduli, aku mulai mau tau semua tentang mu. Aku mulai merindukan mu dan ingin memiliki mu. Tapi seperti nya takdir kita tak menuju arah yang sama. Ini jelas mengecewakan ku. Tapi yang ingin ku sampaikan adalah, meskipun sekarang aku patah karena mu. Sedikit pun aku tak pernah menyesal karena sudah jatuh kepada mu. Ku nikmati segala nya. Proses mencintai mu dan juga merelakan mu. Jadi terima kasih. Karena sudah menjadi bagian dari cerita panjang ku tempo hari. Jadi sekali lagi ku ucapkan, terima kasih.
-chi
01:27 AM
Komentar
Posting Komentar