Postingan

Gema untuk Tiara

  Kanvas angkasa di penuhi oleh gemerlap cantik bintang malam itu. Saat Gema sampai di depan pagar rumah Tiara, pujaan hati nya. "Jam 7 pas, sesuai janji kita. Ga telat sedetik pun" Ucap laki laki yang mengenakan jaket denim hitam itu saat wajah tiara keluar dari balik pagar rumah. Senyum Tiara merekah mendengar lelucon Gema. "Aku mau pamit sama calon mertua ku dulu. Ada mereka? " Tanya gema sembari mengintip dari balik pagar "Nanti aja pas pulang ya. Soalnya ada eyang di dalem. Kamu tau kan eyang gimana kalo udah ketemu kamu, bisa bisa kita ga jadi jalan karena kamu ga bisa lepas dari beliau" Gema tertawa tipis "Baiklah kalau begitu, sini pake helm dulu tuan putri" Tiara mendekat di hadapan gema. Laki laki itu membantu sang pacar mengenakan helm. Sebuah kebiasaan yang terkadang membuat tiara malu, karena gema selalu melakukan nya tak peduli bahkan jika sekitar mereka sedang banyak orang. "Aku kan bisa make helm sendiri Gema" ...

Perayaan Luka

  "Sendirian aja mbak? " Sapa pak satpam dengan ramah sore itu. Aku menoleh ke arah nya, tersenyum dan menjawab singkat "Hehe iya pak" "Tumben, biasanya selalu sama mas nya kalo kesini" Senyumku semakin lebar, dengan juga nada yang ku rasa sama ramah nya aku menjawab tanya itu "Iya pak, dia lagi kerja. Jadi aku sendirian kesini nya. Lagi pengen hehe" Pak satpam itu mengangguk singkat. "Ya sudah, selamat menikmati hari ya mbak" Aku mengangguk singkat, mengikuti kepergian laki laki paruh baya itu dengan senyum. Lalu mata ku mengitari seluruh isi taman, mencoba melihat sekelilingku sebelum kembali ke layar laptop di hadapan ku. Taman sore itu sepi, memang tak pernah ramai. Aku teringat itu adalah salah satu alasan  kita begitu menyukai tempat ini. Di taman indah ini kita bisa duduk berjam jam menghabiskan waktu melakukan hal hal kecil tapi manis, membicarakan apa saja dan tertawa bersama. Kita hanya duduk tapi entah mengapa itu...

Daun Terakhir di Ranting Kecil

  "Dua puluh tiga hari lagi bukan waktu yang sebentar nada" Ucap seorang perempuan ber netra kecoklatan itu "Gue tau Cha" Balas nada lembut "Lalu kapan lu akan ngasih tau dia? " "Sudah" Balasan Nada tersebut membuat Icha memalingkan wajah nya ke arah Nada. Mencoba menyerobot ke dalam pernyataan Nada barusan, mencari celah kebohongan "Lalu apa yang dia katakan? " Nada tak langsung menjawab. Juga tak membalas tatapan Icha.  Perempuan itu jelas kesulitan memberikan jawaban. Seolah sedang menolak mengingat kenangan yang masih segar itu. "Nada, tell me. Apa yang dia katakan? " Lagi, Icha menuntut jawaban dari sahabatnya itu "Dia menolak" Singkat jawaban Nada, namun mampu menghentikan nafas Icha sejenak. "Dia menolak untuk datang, katanya akan sangat berbahaya jika dia datang. Lu tau kan anak-anak nya ga tau tentang gue. Lagi pula istri nya gak ngasih izin, dan di hari yang sama dia udah berjanji ngajak a...

Dara dan Mereka

  Jam telah menunjukkan 2 dini hari saat seorang bartender menyuguhkan gelas minuman beralkohol yang kesekian ke hadapan  seorang wanita muda. Wanita berbaju kaos putih itu menerima gelasnya dengan senyum ramah. Dia belum mabuk, mungkin sudah, tapi tidak terlalu parah. Karena Dara, nama wanita itu. Masih bisa menyadari teman di samping nya yang menjadi pawang nya malam ini. Resa sudah duduk satu jam lebih di samping Dara, semenjak saat dia mendapat telepon dari sahabat dekat nya itu. Mengawasi Dara, sembari menyesap wine nya yang tak kunjung habis. "Gue tau lu kuat minum, tapi malem ini lu udah terlalu banyak minum. Ini gelas terakhir oke. Habis ini kita cabut" Dara menghela nafas nya perlahan mendengar penuturan Resa. "Gue capek" Suara itu lirih keluar dari mulut Dara. Mata nya tajam melihat ke depan. Ke arah kerumunan manusia yang masih asik menggerakkan tubuh nya mengikuti alunan musik. "Kalau gitu besok gue akan minta Jihan untuk atur jadwal kerjaan. ...

PEREMPUAN DI LORONG WAKTU; kabar yang tidak di harapkan

 Sore itu, langit sudah berwarna jingga disetiap sudutnya. kala killa menyambut Ibrahim diserambi rumahnya. Tawanya cerah, berbanding terbalik dengan raut wajah kaku yang di tampilkan Ibrahim. "eh mas Ibrahim, tumben mas kesini. Ayo silahkan masuk mas" Ajak killa kepada Ibrahim sembari membuka lebar pagar rumahnya, menuntun  Ibrahim untuk masuk keruang tamu rumahnya “disini saja Killa” suara bass itu tercekat berat saat mereka tepat didepan pintu rumah Killa menatap heran, meskipun pada akhirnya dia menuntun Ibrahim untuk duduk di kursi teras “mas mau minum apa? Biar saya ambilkan” tawar killa halus “tidak perlu repot-repot Killa, saya hanya ingin berbicara dengan mu” “tidak repot kok mas, tunggu sebentar ya” “saya mohon killa, tolong kamu cukup duduk saja” Cegah Ibrahim kala killa akan tetap berangkat dari duduknya. Lagi-lagi killa menatap heran kepada pria yang merupakan teman baik suaminya itu. Killa duduk kembali ke kursinya. Hatinya gelisah merasakan su...

Surat untuk mu, yang kecewa atas keputusan ku

 Teruntuk mu yang sudah berbaik sangka padaku. Yang menyayangi ku dengan segenap harapan mu. Ini adalah sebuah surat kecil yang ku tuliskan pada dirimu yang kecewa akibat aku. Akibat pilihan ku.  Yang harus kamu ketahui adalah aku sama sekali tak ingin mengecewakan siapapun, termasuk dirimu. Atas perubahan ku, atas jalan ku yang mengejutkan mu karena berbelok tiba-tiba. Percayalah aku sudah berusaha sekuat yang ku bisa untuk memilih pilihan yang tak akan mengecewakan siapapun. Menyakiti siapapun.  Tetapi, Kita tak akan pernah tahu kemana arah takdir berjalan. Sekarang, mungkin kau akan kecewa pada ku, karena keputusan yang ku ambil mungkin tak bisa kau terima dengan nalar mu. Mungkin ini memang sebuah keputusan yang buruk menurutmu. Tapi, ku harap kau pun mau belajar mengerti. Bahwa aku punya alasan. Mungkin saat itu aku tak memiliki pilihan. Atau aku punya tapi tak banyak. Dan di antara sedikitnya pilihan yang tersedia, ini yang terbaik yang bisa ku pilih; untuk saat ini...

Katamu

 Kau katakan kemarin Bahwa hati mu,jiwa mu begitu menyukai hujan. Kamu selalu memberitahukan orang orang. Bahwa kau begitu merindukan hujan yang sudah lama tak bertamu. Lalu hari ini tuhan kirim kan hujan  Rinai nya datang ingin memeluk mu Sang surya mengalah tertutup kelabu Agar kau dapat menyampaikan rindu mu pada hujan Tetapi kenapa.. Kau malah berlari menghindari rintik nya? Kau malah membuka lebar payung mu untuk berteduh Kau malah menggerutu saat dingin nya menyelimuti mu Kau malah pergi terlelap dalam mimpi mu Meninggalkan hujan turun sendirian tanpa sambut mu Perlahan hujan menghilang Pergi dengan sepi Bulir air nya satu persatu berhenti Kembali ke tempat persembunyiannya di angkasa Begitu menyadari bahwa cinta mu semu Rasa mu adalah tipu Kata mu hanyalah angin lalu Hujan mu berlalu, sesuatu yang mungkin suatu saat akan membuat mu rindu -chi  10:23 PM