PEREMPUAN DI LORONG WAKTU : Semu yang nyata

Perempuan itu berjalan menyusuri pasir pantai yang putih, sama putih nya dengan baju yang sedang dia kenakan. Langkah pelan nya terhenti di bibir pantai, berdiri diam menghadap luas nya lautan biru. Ombak dengan lembut membasuh kaki polos itu. 

Killa, perempuan yang sedang menggenggam seikat bunga mawar putih segar itu memejamkan mata nya erat. Diam mendengarkan alunan alam yang memanjakan telinga nya. Dan perlahan tangis yang selalu dia sembunyikan dari dunia, keluar dengan malu malu dari tempat nya. Meskipun killa masih berusaha sekuat tenaga menyimpan nya untuk dirinya sendiri. 

.

.

"Jangan menangis sayang"

Tangan besar itu mengusap pipi killa lembut. Killa tak jua membuka matanya, menikmati setiap sentuhan yang sedang dia rasakan. Tangan mungil killa terulur menggenggam tangan besar itu. Ini hangat yang dia rindukan. Genta, sang pemilik tangan itu tersenyum melihat betapa erat killa memegang tangan nya.

"Aku gak suka ngeliat kamu nangis"

Genta menarik killa dalam dekap nya. Tangis killa sedikit mereda, menikmati hangat tubuh pria yang selalu ada didalam doa nya.

"Sampai sekarang, aku masih menolak untuk percaya ta. Aku gak mau mempercayai semua itu ta"

Suara killa lirih terdengar di sela tangis nya.

"Kalau begitu kamu gak perlu percaya itu semua killa" 

"Aku kangen kamu ta!"

"Kamu pasti tahu kalau aku juga kangen sama kamu."

Tangan genta mengelus lembut rambut sebahu perempuan yang begitu dia cintai sepenuh hati.

"Ta, aku disini.. aku disini kesulitan tanpa kamu ta. Aku capek"

" Kamu adalah perempuan paling kuat dan tabah yang aku kenal sayang. Aku percaya kamu kok"

"Pulang ta, ku mohon pulang. Tolongin aku ta. Tolong"

Permohonan yang killa lontar kan dengan sangat putus asa, membuat ombak dengan takut menyentuh nya. Alam meringis kasihan melihat betapa tak berdaya nya perempuan itu

"Maafin aku ya sayang. Kamu tahu aku selalu sayang kamu"

"Genta"

Suara killa semakin melirih kala hangat yang dirasakan nya memudar dengan cepat. Tangis killa kian membesar saat dirinya sadar bahwa genta tak juga jadi nyata. Bahwa hangat yang dia rasakan hanyalah bayang semu semata.

Perempuan itu terduduk dalam deburan ombak. Bunga mawar putih yang dia genggam kini sudah berhamburan terseret ombak. Tangan nya tergenggam erat di dada sebab sesak yang dirasakan perempuan itu kian membuncah. Seiring dengan irama tangis nya yang semakin tak terkendali. Seolah ingin memberitahukan pada dunia, takdir, genta, dan semua nya bahwa dia tidak sedang baik baik saja. Suara killa serak dalam teriakan yang tertahan. Tangis yang begitu menyayat hati bagi setiap telinga yang mendengar nya. Kali ini killa kalah dengan luka nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebab aku akan baik baik saja. Nanti.

AGA & RAINA : PERTEMUAN

SURGA TERSEMBUNYI ITU BERNAMA PEKAJANG