AGA & RAINA : PERPISAHAN

Suasana riuh menyambut kelulusan anak kelas tiga SMA Satya hari itu. Sama seperti ku yang juga ikut meramaikan suasana. Oh hai nama ku Reina Amora, kalau kalau kau lupa. Dan aku baru saja turun dari panggung setelah memberi persembahan musikalisasi puisi perpisahan untuk semua kakak kelas yang akan mengakhiri masa sma nya. Disaat semua orang asik dengan acara kelulusan tersebut, aku berjalan dari satu rombongan ke rombongan lain. Berusaha menemukan sesuatu atau lebih tepat nya seseorang.

Lalu langkah ku terhenti di sudut yang sepi, riuh masih terdengar namun samar. Aku terkunci pada  mata bernetra hitam legam yang menatap ku tajam. Aga ranufa. Seseorang yang sedari awal ku cari keberadaan nya. Tapi sekarang setelah aku berhasil menemukan nya, rasanya diriku ingin melangkah mundur dan berbalik. Ingin melarikan diri. Namun seolah kaki ku terpaku pada kedalaman bumi, tak bisa melangkah lari. Sementara langkahnya mendekat sambil membawa sesuatu digenggaman nya. Sebuah bunga mawar putih, kesukaan ku. Senyumnya masih hangat namun seperti ada yang tertahan. Debaran ku mengencang kala jarak semakin menipis. Pria yang begitu ku rindukan, kini  berada tepat di depan ku. Lalu dia mengulurkan tangan nya yang ku sambut senormal mungkin. Bunga itu ku ambil, tapi tangan ku masih tertahan dalam genggam besarnya.
"Kamu cantik,penampilan mu juga keren dan aku semakin sayang sama kamu" suara pria itu terdengar berat namun menggema di hati ku.
"Terima kasih. selamat untuk kelulusan mu"
Dia tertawa lugas,lalu tangan nya semakin erat menggenggam
"Aku gak siap untuk perpisahan ini rein. Aku pasti bakalan kangen berat sama kamu." tawanya hambar dapat ku rasakan. Ada perih yang terkandung dalam gema itu. Sorot matanya mencoba menyampaikan kata yang tak bisa terucap. Dan seolah aku tahu benar apa itu.
"Aku sama sekali ga bisa ninggalin kamu rein"
Aku membeku, kalimat nya seakan membuat waktu ku berhenti. Dan aku ditarik  masuk pada ruang dimensi yang paling menyedihkan.
"Maaf ga. Kita..."
"Kamu gak perlu minta maaf sayang."
" Aga"
"Aku tau kamu juga terluka rein. Pasti berat ngehindar dari aku beberapa hari ini. Iya kan?" Tangan itu mengusap lembut jemari ku. Mulut ku kelu untuk menjawab pernyataan aga barusan. Padahal ribuan kata berdesakan didalam hati ingin keluar. Senyum itu kembali dia berikan pada ku.
"Aku bersumpah rein, aku yang akan pastikan luka kamu hari ini akan terbayar dengan bahagia."
"Ga please"
"Aku sayang kamu rein, dan aku juga tahu kamu sayang aku sama besarnya. Jadi aku ga akan ngebuat pengorbanan kamu ini sia sia"
Senyum itu melebar, sorot mata itu menyentuh dasar hati ku paling dalam. Aku benar benar ingin memeluk nya. Namun semua tertahan. Tak boleh. Aku tak boleh mengacaukan semuanya.
Senyum kecil ku berikan sambil menarik lepas tangan ku dari genggaman nya. Sekali lagi percayalah bahkan aku rasanya ingin memeluknya, tapi keadaan sama sekali tidak mengizinkan.
Tangan nya merogoh saku jas yang digunakannya. Mengeluarkan sesuatu dari dalam kotak beludru merah. Lalu tangan nya kembali berayun melingkari leherku. Memasangkan sebuah kalung tanpa seizin ku dahulu. Aku tak bisa bereaksi, melangkah mundur misalnya. Tubuh ku membeku layaknya patung tanpa bisa melawan.Jantung ku terasa terhenti, dalam jarak sedekat ini. Pada orang yang paling ingin ku dekap, ingin rasanya menyudahi segala permainan ini. Tapi keputusan sudah diambil. Ada penghalang yang sudah disepakati bersama. Aku tak bisa berbuat apa apa.
Setelah sepersekian menit, tubuh itu membuat jarak. Seketika rasanya hantaman kecewa mengguyur dunia ku dengan begitu deras
"Sudah ku duga kamu pasti cantik memakainya. jangan dilepas ya sayang. Anggep aja ini pengganti aku selama aku pergi." tangan besar itu lalu mengacak rambut ku yang selama ini menjadi aktivitas favoritnya. Tubuh ku masih kaku tak mampu membalas senyum nya. Terlalu sulit untuk menahan diri agar tak mengeluarkan emosi yang mampu membuat Aga mengacaukan semua rencana yang sudah ditetapkan. Tangan ku terkepal mencoba menahan tangis yang semakin bersemangat keluar. Tidak, aku tidak boleh menangis. Setidak nya tidak di depan pria ini.
Jemari Aga menyentuh pipi ku lembut. Mengusap nya perlahan.
"Sampai nanti Rein. Jaga diri kamu baik baik. Aku pergi ya puan kesayang ku. Aku sayang kamu. Inget itu selalu." wajah itu masih menampilkan senyum kesukaan ku sembari tubuhnya berbalik untuk pergi.namun senyum itu memudar kala langkahnya menjauhi ku. Kembali menjadi manusia berwajah dingin tak tersentuh. Aku hanya bisa melihat punggung itu melangkah semakin tak terlihat. Air mata ku berebutan keluar dari rumahnya, hati ku seolah berbisik "sekarang dia benar benar pergi Raina. Selamat merayakan perpisahan!"

Hancur sudah pertahanan ku, seperti ribuan pisau berebutan untuk menusuk hati. Perih ini benar benar diluar perkiraan ku. Melihat raga itu menghilang dalam pandangan. Tidak, ini bukan perpisahan seperti biasanya. Kemarin aku selalu berpikir bahwa masih ada hari esok untuk melihat punggung itu dari jauh. Tapi hari ini, hari ini adalah kesempatan terakhir ku melihat nya. Hati ku, jiwa ku yang ku sangka kuat ternyata sama sekali tak mempunyai kesiapan untuk menghadapi perpisahan yang sesungguh nya ini. Aku terduduk dalam singgasana luka, ini konsekuensi akibat pilihan ku sendiri. Pengorbanan yang harus diambil. "Ini demi kebaikan kalian berdua" berdengung kembali percakapan diruang kepala sekolah kala itu.aku tak punya pilihan lain. Selain mengalah, berharap keputusan ini tak salah. Sembari mencoba mempercayai janji janji orang orang itu "Aga pasti kembali". tapi tetap saja perpisahan ini memberi luka yang begitu besar. Tak bisa di pungkiri bahwa perpisahan akan tetap menjadi luka paling menyedihkan. Tak peduli meskipun itu mengatasnamakan kebaikan.

Hari itu, kala mendung menyelimuti semesta. Dua orang manusia yang disatukan oleh takdir harus dipisahkan karena sebuah takdir pula. Pelan rinai hujan turun membasahi bumi. Seolah penanda bahwa sebuah penantian panjang pun akan dimulai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebab aku akan baik baik saja. Nanti.

AGA & RAINA : PERTEMUAN

SURGA TERSEMBUNYI ITU BERNAMA PEKAJANG