Surat; sang amunisi

 "Tentang mu aku sama sekali tak ingin egois mas. Semesta dengan baik mempertemukan kita dalam persimpangan. Aku tidak mengerti takdir akan berjalan bagaimana mas. Entah kita akan searah atau pada akhir nya kita akan kembali berada di persimpangan  masing-masing. Namun jika memang kita ditakdirkan untuk bersama, maka tuhan akan memelihara hati kita dan memberikan jalan nya. Dan jika ternyata kita bukan lah jodoh, maka tuhan akan membalikkan hati kita sebagaimana mesti nya. Tapi, sepanjang tahun mengenal mu. Aku berterima kasih banyak untuk segala hal baik yang kamu ajarkan. Membantu ku mencari jawab atas banyak tanya yang timbul sepanjang proses pendewasaan ku. Memperbaiki banyak salah dari pola pikir dan juga sikap ku. Merubah kebiasaan buruk yang sering kali ku lakukan. Kita telah berproses bersama dengan sangat baik. Meskipun masih banyak hal pula yang harus terus kita perbaiki. Kamu  telah membuat kita tumbuh menjadi sepasang yang dewasa. Perkelahian tak lagi tentang hal hal sepele, meski atas hal hal kecil aku masih kerap kecewa. Aku sungguh belajar banyak hal dari dirimu mas. Menjadi dewasa semenyenangkan ini ku rasakan saat bersama mu. Aku sungguh ingin kita tetap menjadi sepasang yang utuh sampai maut memisahkan. Tapi pun juga aku sama sekali tidak bisa memaksa jika ternyata doa kita tak sejalan dengan rencana tuhan. Pada mu, aku ingin untuk tulus mencintai. Tanpa ada paksa untuk memiliki. Tentang mu, aku ingin tetap ini menjadi indah. Meskipun didalam nya terdapat juga luka. Sejauh ini kita bisa bertahan mengalahkan ego satu sama lain. Dan lagi, aku berharap selamanya kita tak akan hancur termakan waktu.

Tapi jika suatu saat nanti kita terpaksa menghilang dalam badai, aku berdoa semoga kita akan sembuh atas luka meski harus berpisah. Bagi ku, mengetahui kamu baik baik saja adalah ketenangan  yang ku cari. Aku pengen kamu selalu sehat, selalu sabar, aku pengen kamu walaupun sekarang sedang merasa lelah, bisa memutuskan istirahat tanpa harus merasa takut. Mas, aku sungguh berharap kamu mau untuk pulang ke "rumah" tanpa rasa malu saat kamu merasa tak baik-baik saja. Pada mu aku belajar untuk menerima. Aku terima baik beserta buruk mu. Semoga tuhan selalu melindungi kamu. Kamu menyebut nya ini ikhlas. Aku menyebut nya ini pasrah. 

Serela itu aku menyerahkan kita dalam takdir tuhan yang masih abu. Mas, sekali lagi terima kasih sudah menjadikan ku perempuan yang begitu dihargai dan dicintai. Maaf untuk segala kurang ku yang kerap kali merepotkan mu. Seperti yang kamu bilang mas, jalan ini tidak akan mulus. Tapi semoga kita bisa terus bersama sepanjang jalan takdir yang akan kita lewati. Selamat bertambah usia mas. Aku sayang kamu, selalu."

.

.

Lagi, kembali dibuka kertas yang nyaris lusuh itu. Netra tajam nya kembali menyusuri setiap kalimat yang tertulis, meskipun sebenarnya dia sudah hapal diluar kepala saking seringnya dibaca. Kembali, berdetak kencang jantung nya, menghangat hatinya. Merasakan begitu banyak cinta dan sabar yang tertuang di dalam surat itu. Dia lelah dan juga rindu. Tapi ini adalah jalan yang sudah dia pilih. Dia harus bertanggung jawab hingga semua selesai. Ada perempuannya yang menunggu dengan tabah, yang berdoa dengan pasrah untuk nya. Dia hanya perlu berjuang, menyelesaikan tugas ini. Lalu kembali pulang. Kedalam dekapan sang puan. Sebagai seorang prajurit yang berhasil, dan sebagai seorang yang merindu dengan penuh kepada sang kekasih.

Chi, 11:38 PM

Komentar