Pulang



 Sore itu cuaca sedang tidak bersahabat. Hujan turun dari siang dan belum juga berhenti sampai sekarang. Hari itu adalah hari yang cukup panjang bagi seorang gadis kecil berjilbab ungu yang sedang fokus dengan buku berisi hafalan doa doa sholat.

 Sepulang sekolah yang cukup telat tadi, gadis itu langsung meluncur ke rumah salah satu ustazah TPA nya. Tentu saja setelah omelan panjang dari sang nenek.

 “Adek, makannya jangan lama lama. Kamu sudah telat untuk pergi ngaji loh”

 Gadis kecil itu memberengut kesal di buru seperti itu. Film kartun di hadapan nya jadi tidak bisa dia nikmati dengan tenang.

 “adek gak usah masuk saja ya nek, kan sudah telat” wajah mungil itu memasang wajah lucu demi merayu sang nenek yang sibuk dengan mesin jahitan di hadapannya.

 “tidak adek, kamu tetap harus pergi ngaji. Kan hari ini ada setoran hapalan surah”

 “Tapi, kalau adek pergi jam segini. Nanti adek pasti jadi terakhir selesai. Adek setornya besok saja ya nek” gadis kecil itu tak menyerah untuk merayu sang nenek. Sebenarnya hari ini ada episode baru kartun kesayangan nya yang akan tayang. Jika dia pulang telat, dia juga pasti akan telat menonton film itu.

“ya makanya, adek cepet makannya. Habis ini siap siap dan nenek anter ke rumah ustazah” sang nenek menoleh ke arah sang cucu yang masih duduk di depan tv dengan wajah cemberut. Senyum gemas terbit di wajah tua yang termakan umur itu. Mencoba memberikan semangat kepada cucu mungil nya ini.

Dan disini lah sang gadis mungil itu berada. Di salah satu ruangan khusus di rumah ustazah nya yang di khususkan untuk ruangan anak anak yang belajar mengaji.

Hapalan surah pendek dan bacaan alquran nya yang terus salah cukup membuat tubuh mungil itu kelelahan. Ditambah hujan yang terus mengguyur membuat mata sipit itu sesekali menatap awas keluar rumah; dia takut dengan hujan. 

 “Nada, kenapa umi lihat sepertinya dari tadi gelisah sekali?” seorang perempuan berjilbab coklat yang di panggil ustazah itu mengelus pelan pucuk kepala gadis yang sedang duduk dengan buku hapalan di hadapannya

 Nada, nama gadis mungil itu, menoleh ke arah ustazahnya. Dengan wajah sedikit memelas

 “dari tadi Nada salah terus menghapal surah ali imran ini, umi”

 Mata mungil itu sudah hampir ber air karena frustasi, sedang ustazah yang di panggil umi itu tersenyum tipis. Di usap nya pipi mungil itu pelan dan penuh kasih

“hmm, biasanya Nada mudah dalam menghapal nak. Surah At-Tin kemarin Nada bisa menghapalnya dengan cepat dan baik”

 “Nada juga tidak mengerti umi. Apa jangan jangan ada setan ya yang ganggu Nada. Jadi Nada susah menghapal” suara Nada berbisik saat mengatakan nya. Seperti takut di dengar oleh selain sang ustazah

 Tawa renyah terdengar dari sang ustazah. Gemas dengan tingkah murid kesayangan nya ini

 “jadi Nada berpikir bahwa setan itu yang mengganggu hapalan Nada?”

 Kepala kecil berbalut jilbab ungu itu mengangguk semangat. 

 “jadi kira kira kenapa setan itu bisa mengganggu Nada yang sedang belajar?”

Kening halus milik Nada mengernyit demi mengingat alasan kenapa sang setan mengganggu nya yang sedang belajar

 “karena Nada tidak membaca basmalah?” tanya gadis itu ragu

“memangnya tadi Nada tidak membaca basmalah?”

Kepala Nada menggeleng cepat, membantah pertanyaan itu

 “tadi Nada baca basmalah kok sebelum menghapal”

“terus karena apa dong nak?”

Kening Nada kembali mengernyit, mencari alasan lain kenapa setan mengganggu nya yang sedang menghapal

 “oh umi, Nada kayaknya tahu deh karena apa”

“oh ya? Memangnya karena apa?

“Nada lupa membaca doa sebelum belajar” wajah Nada cengengesan melihat ke arah ustazah nya. Takut di marahi

Sedang sang ustazah memasang wajah pura pura marahnya. Semakin merasa gemas dengan anak kecil di hadapannya ini

“Hmm, kok bisa lupa sih anak. Ayo sekarang kita membaca doa sebelum belajar, sebelum Nada melanjutkan menghapal”

Gadis itu memperbaiki duduknya menjadi lebih tegak. Bersiap membaca doa sebelum belajar bersama sama sang umi

“bissmillahirrohmannirrohim, robbi zidnii ‘ilmaa, warzuqnii fahmaa, waj’alnii minash-sholihiin. Amiin”

Suara kecil Nada mengalun pelan membacakan doa tersebut. Lalu kedua telapak tangannya mengusap wajah nya pelan. Sang ustazah mengikuti gadis di hadapannya ini dengan tenang. Melihat betapa cerdas anak perempuan di hadapannya ini. Lalu mereka kembali melanjutkan kegiatan mereka, meskipun secara halus masih ada kegelisahan di dalam diri gadis kecil itu.

 .

Rasanya waktu bergulir dengan sangat lambat hari ini. Tubuh itu gelisah ingin menyelesaikan semua nya. Hingga akhirnya jam pulang yang ditunggu datang. Si kecil itu menunggu dengan sabar giliran nya untuk pulang. Sementara satu persatu teman nya telah di jemput oleh orang tua mereka. Tubuh itu menghela nafas pelan sembari memakai sendal lucu yang baru dikirim oleh ibunya beberapa hari yang lalu. Sebagai hadiah ulang tahun kata sang ibu. 

“Nada gak mau nunggu jemputan dulu nak?” tanya sang ustazah yang ikut duduk di samping nya

“kalau tunggu nenek jemput, lama umi”

“Hmm, kalau begitu umi anter ya. Daripada Nada pulang sendirian”

Gadis itu menggeleng. Menolak halus tawaran sang ustazah

Netra gadis itu menatap ke arah langit dengan sendu. Sesekali melirik ke arah teman temannya yang sudah berjalan pulang bersama orang tuanya. Raut kesedihan itu tertangkap oleh netra teduh ustazah

“Nada kangen ayah sama ibuk ya?”
suara itu lembut berhati hati menanyakan masalah yang cukup sensitif itu

“semalem Nada mimpi ayah sama ibu pulang” jawaban itu singkat. tapi tak ada iringan air mata disana, atau sang empunya sedang mati matian menahan bulir itu agar tidak jatuh

Wanita dewasa disampingnya itu menghela nafas pelan. Merasa iba pada gadis kecil ini. Di usapnya punggung sang gadis dengan pelan, mencoba mengurangi beban pengertian yang sudah di tanggung nya di usia sekecil ini

“Nada pikir, pasti akan menyenangkan kalau sekarang ayah atau ibu jemput Nada dengan payung” senyum terbit di wajah mungil itu. Merasa bahagia walau hanya dengan membayangkannya saja. Tapi dengan cepat kepala itu menggeleng kuat. Seperti mencoba mengenyahkan imajinasinya barusan

“tapi Nada gak boleh manja. Ayah sama ibu kan kerja disana, cari uang buat Nada beli nyam nyam”  lanjutnya dengan penuh semangat. Lalu senyum itu kembali terbit setelah sempat pudar.  

“Nada masih inget gak kalau kita kangen seseorang, itu kita harus apa, sayang?”

Nada menoleh ke arah sang ustazah. Lalu mengangguk pelan

“kita harus mengirimkan surah alfatihah kepada orang tersebut umi”

“nah, karena Nada lagi kangen sama ayah dan ibu, kira kira Nada harus apa?”

“Nada harus membaca surah alfatihah dan mengirimkannya ke ayah dan ibu” jawab Nada dengan tegas

“nah sekarang ayo kita baca surah alfatihah untuk ayah dan ibu Nada, sama sama”

Gadis itu mengangguk dengan penuh semangat, dan membacakan surah tersebut dengan penuh khidmat.  Selesai membaca, nada bangkit dari duduk nya, bersiap untuk pulang. Sang ustadzah melihatnya dengan tersenyum, gadis kecil ini memang penuh dengan energi baik. Lalu mengantarkan nya sampai dengan depan halaman rumah miliknya. 

“umi terima kasih untuk hari ini ya. Nada pulang dulu, assalamualaikum umi”

Suara mungil nya memenuhi halaman hijau sang ustazah sore itu.

.

Gerimis masih pelan membasahi bumi. Kaki itu melangkah kecil menyusuri jalanan yang becek akibat hujan tadi. Menghindari genangan air dengan lompatan lompatan kecil. Otak nya sudah riang membayangkan film kesayangan nya.

“nanti sampe rumah bisa langsung nonton, yes yes episode baru” ucapnya riang sepanjang jalan

Meskipun ustazah nya tadi sempat melarang dia untuk pulang sendiri, mengingat langit masih gerimis dan dia tak membawa payung. Tapi dia hanya ingin sesegera mungkin untuk pulang. Lagi pula, biasanya dia selalu pulang seorang diri. Berjalan kaki menyusuri jalan tanpa harus menunggu jemputan. Terlalu lama, atau bagi nya akan sangat lama jika harus menunggu.

 

Di ujung jalan, seorang pria dewasa berdiri dengan payung menaungi tubuh nya. Pria itu memperhatikan langkah kecil gadis yang sedang berjalan merunduk di depan nya. Gerimis tak juga selesai. Sang gadis kecil menikmati segalanya walau di hati nya terbesit sedikit rasa takut. Tangan mungil nya memeluk tas berisi buku dan alquran, takut basah katanya.

"Dek"

Suara tegas itu memecah melodi hujan yang sedari tadi bernyanyi. Membuat wajah mungil itu menengadah melihat asal suara.

“adek, inget ya, kalau nanti ada yang mau jahat sama adek dan lebih besar dari adek, jangan di lawan ya sayang. Nanti adek lari saja yang kenceng ke arah keramaian. Oke sayang”  suara sang ibu terdengar di otaknya.

Dia bersiap lari kebelakang seperti yang di ajarkan oleh ibunya, kalau kalau suara itu berbahaya. Mata sipit itu terbuka sedikit lebih lebar demi melihat sosok di depan nya.

"Ayah!"

Bibir mungil itu bersuara dengan nada riang dan cukup melengking. Langkah nya di percepat terkesan lari, tak lagi peduli dengan genangan air yang mengotori baju muslim nya.

"Pelan pelan sayang, licin"

Ucap laki laki itu seraya menangkap tubuh kecil anak perempuan nya.

"Ayah jemput adek?" 

Tanya gadis itu seolah tak percaya dengan apa yang terjadi

"Adek kan takut hujan" 

"Ayah pulang?"

"Iya, soal nya ayah udah kangeen banget sama adek"

"Iih adek juga kangen ayaah"

Di peluknya erat tubuh kekar milik pria di hadapannya itu, mencoba menyalurkan ribuan kerinduan yang sudah dia simpan

"Yuk pulang, ibuk udah nunggu dirumah"

"Ibuk juga?"

Mata kecil itu menatap kaget ke arah sang ayah. Seolah mencari kebenaran dari ucapan sang ayah.

"Iya sayang, ibu juga."

Senyum gadis mungil itu semakin melebar. Dengan langkah bersemangat dan riang, dia menuntun sang ayah untuk mulai berjalan pulang. Langkah mereka kecil, mengimbangi kaki mungil si gadis. Tas itu sudah berpindah ke bahu sang pria. Dan tangan mungil itu kini memeluk lengan kekar yang juga menggenggam hangat jemari kecil itu. 

"Ayah, ayah, ayah"

"Iya sayang, ada apa?

"Iih ayah tau gak.."

Dan sisa perjalanan mereka di habiskan dengan keluhan sang anak dan sahutan kecil dari sang ayah.

Hati gadis kecil itu tak lagi lelah hari ini.

"Perjalanan pulang yang menyenangkan"  timpal nya didalam hati.

 

Komentar